Selasa, 30 September 2008

Permainan Anak-Anak Rejang

Permainan Anak-Anak Rejang

Bobot
Bobot ini terbuat dari 2 batang kayu dengan panjang sekitar 150 cm (dapat digenggam jemari anak), kemudian di bagian bawahnya sekitar 100 cm dipalangkan kayu yang sama dengan ukuran panjang sekitar 50—75 cm. Gunanya adalah untuk tempat menarik kayu yang sudah diikat dengan rotan atau tali akar.
Bobot ini sangat digemari anak-anak Rejang di Lebong, karena kebanyakan orangtuanya sepanjang hari. Bahkan, ada yang berbulan-bulan tinggal di kebun atau ladang. Sehingga anak-anak yang ditinggalkan di rumah di dusun (sebutan untuk kampung), harus mencari kayu bakar sendiri di pinggir-pinggir hutan. Jadi, anak-anak masyarakat Rejang harus dapat hidup mandiri kalau di tinggal di dusun.
Biasanya, mereka mencari kayu bakar tidak sembarangan menebang kayu. Kayu yang dipilih seperti kayu nilo atau kayu-kayu yang sudah mati. Lalu mereka potong seukuran 3—4 meter. Kemudian ditarik dengan Bobot ke rumah masing-masing. Kebiasaannya mereka mencari kayu sepulang dari sekolah dan beramai-ramai.

Sedangkan Bobot ukuran lebih besar, biasanya digunakan oleh orangtua (orang dewasa). Bentuknya mirip, hanya ukurannya (ukuran kayu) lebih besar, sebab Bobot yang ukuran lebih besar biasanya ditarik oleh kerbau yang membawa kayu-kayu balok dari tengah hutan. Perbedaannya, antara Bobot kecil (untuk anak-anak) dan Bobot besar terletak di bagian ujung bagian atas. Bobot besar harus ada kayu yang melengkung dihubungkan antara kedua kayu bulat Bobot. Karena, kayu yang melengkung itu ketika ditarik oleh kerbau, bisa melekat di tengkuk kerbau.

Namun, harus ditambahkan tali yang seakan-akan melilit di leher kebaru. Maksudnya, agar Bobot tidak melorok dan tetap di tengkuk kerbau.


Ceu Cet
Permainan Ceu Cet ini hampir mirip dengan permainan petak umpet. Artinya Ceu Cet adalah melompat-lompat dari satu kota ke kotak lainnya. Bentuk permainannya adalah melompat ke kotak-kotak yang sudah dibuat dengan garis di tanah. Kenapa harus di tanah? Karena sebelum pemainnya melompat ke setiap kota yang tersedia, si pemain harus melemparkan sebuah batu berbentuk ceper ke masing-masing kotak yang ada.
Jika lemparan batu mengenai garis, maka dianggap dis dan akan dilanjutkan dengan pemain yang lainnya. Demikian seterusnya. Begitu juga kalau kakinya waktu melompat dari satu kotak ke kotak lain mengenai garis, iapun dianggap dis. Jumlah pemainnya tidak terbatas dan tidak menggunakan waktu.

Sembunyi Di Terang Bulan
Permainan jenis ini hanya dilakukan saat terang bulan. Peralatannya hanyalah kayu bakar yang sudah dipotong-potong, kemudian disusun dari bawah ke atas. Biasanya di halaman rumah. Tinggi susunan kayu bakar, biasanya melebihi tinggi badan anak-anak usia 10-13 tahun. Cara bermainnya, mereka memulai dari suten (suit). Siapa yang kalah untuk beberapa saat harus menutup mata. Kemudian, mencari teman-temannya di antara susunan kayu bakar yang mereka buat. Permainan ini dilakukan anak laki-laki dan perempuan. Biasanya mereka lakukan setelah pulang mengaji atau menjelang tidur.
Ketika yang kalah (si pencari) menemukan temannya di dalam tumpukan kayu bakar yang disusun, ia harus menebak, siapa gerangan yang ada di dalam. Jika ia salah menebak, maka ia tetap kalah. Demikianlah seterusnya.

Eket Pun Pisang
Permainan Eket Pun Pisang (Eket=rakit, Pun=batang/pohon, Pisang=pisang). Permainan ini dilakukan anak-anak Rejang di Lebong di Bio Tik (kali/sungai kecil) yang ada di sekitar dusun mereka atau di sekitar Danau tes. Kadang kala mereka melakukan perlombaan, siapa yang cepat sampai di tempat tujuan yang sudah ditentukan.
Eket Pun Pisang dibuat dari beberapa batang pisang yang dipotong dengan ukuran panjang yang sama. Kemudian batang-batang pisang itu ditusuk dengan kayu atau bambu dengan tujuan agar batang-batang pisang itu menyatu. Ada pula yang menambahkan ikatan tali, agar rakitnya itu kuat.
Eket Pun Pisang, sering juga digunakan untuk menyeberangi Bioa Ketawen (Air Ketahun), karena keterbatasan jumlah perahu yang ada. Kalau pun ada, biasanya yang punya tidak mau meminjamkan kepada anak-anak yang suka bermain di air.
Permainan ini sangat terkenal di Kotadonok, Tes, Turung Tiging, Turan Lalang, Talangratu, Tapus, Talangbaru dan Tanjung.

Slulut
Permainan ini sangat digemari anak-anak Rejang di Lebong, terutama di dusun mereka banyak tebing. Slulut (bersilancar dengan pelepah daun pinang) menggunakan pelepah pinang yang tua yang sudah jatuh. Pelepah daun pinang itu bagian daunnya dipotong dan tinggal beberapa centimeter untuk pegangan.
Satu pelepah daun pinang itu bisa dinaiki sekitar 3—4 anak. Dan yang paling depan menjadi sopir memegang tanggai pelepah daun pinang. Mereka bia bermain di tanah yang miring. Artinya, tanah yang bisa membuat mereka merosot dari atas ke bawah. Permainan itu sangat mengasyikkan bagi anak-anak terutama di Kotadonok, Talangratu, Rimbo Pengadang, dan Tapus.

Jumat, 26 September 2008

ucapan lebaran

Rabu, 24 September 2008

Rara Emeliana Prahana

Photobucket

Penasihat


Penasihat
Cerpen Naim Emel Prahana

ENTAH apa maksudnya? Di sebuah pertigaan jalan, di salah satu jalannya dipasang papan merek membentang dari sisi kanan ke sisi kiri jalan. Papan merek itu bertuliskan, “ Kawasan Upeti” kalimat di bawahnya lagi bertuliskan, “Yang melewati Jalan Ini harus Bayar!”
Bulu kudukku berdiri ketika tatapan mata membiarkan aku membaca kalimat-kalimat di papan mereka tersebut. Padahal, aku tidak melewati jalan itu. Untung, seorang kawan dengan cepat mengajak aku berlalu dari pertigaan jalan kota itu.
Kami pun beranjak pergi. Ke arah ke sebuah perkampungan tidak jauh dari kota. Tepatnya hanya beberapa kilo dari bibir pantai Laut Selatan. Di sebuah perbukitan sedang berlangsung keramaian. Banyak sekali hiburan di sana.
Beberapa tokoh daerah itu hadir dan membaur dengan masyarakt, menyaksikan beberapa hiburan rakyat hingga perjudian di balik semak-semak di atas bukit desa tersebut.
Namun, niat hati kami menyaksikan pesta rakyat di bukit desa terhambat. Seorang pria gagah sudah lama mengincar aku. Ketika melihat aku di antara dua teman. Ia langsung mengejar dengan sekuat tenaga.
Aku terpaksa berlari, kadang bersembunyi di balik semak dengan perasaan yang agak takut. Anehnya, pria gagah itu lebih tahu. Ke mana aku lari dan bersembunyi. Membuat aku berpikir keras, bagaimana menghindari pria gagah tersebut.
Sebab, aku belum tahu persis. Siapakah dia itu? Ia mau apa dengan mengejar aku? Itulah yang membuat aku tanda tanya sampai aku dibuat bingung.
Untung sekali. Dua temanku tetap mengikuti ke mana pria gagah itu mengejar aku. Akhirnya, kami sampai di dermaga. Di sana ada sebuah kapal dan kami segera menaiki kapal yang tertambat di dermaga pantai Selatan.
Setelah kami menjauh dari pantai. Aku sedikit lebih tenang dan bisa mengobrol dengan dua rekan yang sejak awal bersamaku. Menaiki kapal tanpa arah tujuan. Hanya sekedar menghindar dari kejaran pria gagah yang kami temukan di kampung dekat pantai.
Setelah beberapa saat berlayar. Tepat di tengah laut. Tiba-tiba kapal kami oleng. Sesaat kami bingung, ada apa dengan kapal yang kami naiki itu. Setelah kapal agak miring ke kanan. Aku berusaha meraih pegangan di antara banyaknya temali di atas kapal kecil itu.
Tapi, apa yang kulihat? Ternyata pria gagah tadi tengah menatap ke arahku dengan tatapan tajam. Sepertinya ia akan melahap diriku di tengah laut itu.
Namun, pria gagah itu tidak serta merta mengejarku. Ia hanya menguncangkan kapal kami. Sehingga air laut masuk ke dalam kapal. Pria itu tertawa terbahak-bahak. Aku ingat tawanya seorang dukun jahat di film-film sinetron yang diputar di stasiun televisi saat ini. Mengerikan.
Wajahnya yang berkumis tebal, brewokannya hingga leher dan rambutnya yang panjang dengan ikat kepala warna hitam. Akh, sungguh menakutkan.
Melihat aku menghadapi pria gagah yang tangguh itu. Kedua temanku melemparkan pelampung dengan maksud agar aku segera mengenakannya dan terjun ke laut. Tanpa pikir panjang, akupun melompat ke laut bersama pelampung yang diberikan teman tadi. Bersamaan itu pula, kapal kami karam. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Yang aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa selamat hingga ke daratan.
Entah berapa lama aku terapung-apung di tengah laut. Aku sendiri tidak tahu persis. Sebab, aku hanya pasrah dengan gerakan gelombang laut yang tentunya menggiring aku ke bibir pantai.
Pada akhirnya akupun tertidur dililit pelampung dan terombang-ambing di tengah laut. Aku baru tersadar ketika suara keras seperti bunyi karung jatuh ke lantai. Saat kubuka mata, ternyata aku sudah berada di bukit desa yang pernah kami datangi. Di sana orang masih banyak. Para tokoh masih asyik menyaksikan hiburan rakyat. Aku sendiri tidak tahu, acara apa di atas bukit desa itu.
Perlahan, aku berdiri dan membersihkan baju dari tanah. Karena bajuku masih basah. Sebenarnya aku hendak berlalu dan pulang ke kota.
Setelah aku berdiri dan hendak melangkah pergi. Tiba-tiba kulihat dari jarak beberapa meter. Kedua temanku tengah berbincang dengan pria gagah yang selalu mengejar diriku. Entah apa yang mereka bincangkan, aku tidak tahu persis. Sebab jarakku agak jauh untuk mendengar perkataan mereka.
Akhirnya, kuputuskan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka dari jarak dekat. Yang pasti aku harus mengendap-ngendap di antara semak belukar yang ada di bukit itu.
Tanpa melalui rintangan berarti, aku sudah berada sekitar 3 meter dari jarak mereka berdiri. Kemudian, aku mengambil posisi yang tepat. Agar semua pembicaraan kedua temanku dengan pria gagah tadi dapat kusadap dengan jelas.
Setelah kupastikan aku dapat mendengar kata-kata mereka dengan jelas. Aku terdiam. Ternyata mereka bertiga tengah membicarakan diriku. Nampak sekali kedua temanku itu sedang memberi masukan kepada pria gagah yang terus memburuku tanpa sebab.
“ Pak, orang yang bapak kejar sejak tadi itu sebenarnya orang hebat,” jelas salah temanku kepada pria gagah itu. Pria itu tidak menjawab, matanya melotot kepada teman yang baru selesai bicara. Sepertinya ia tak percaya.
“Percayalah, Pak. Ia itu orang baik!” tambah teman yang satunya lagi. Pria gagah itu Cuma memegang keningnya, beberapa kali ia mengelus kumisnya yang hitam tebal itu.
Kulihat dengan jelas dari celah-celah daun semak belukar. Kedua temanku salin pandang dengan kerdipan mata yang penuh arti. Tiba-tiba keduanya kaget.
“Apa kata kalian, ia itu hebat?” tanya pria gagah tersebut, dengan sedikit menyorongkan kepalanya ke depan.
Salah satu temanku menjawab, “Betul, Pak! Ia itu hebat. Nggak perlu bapak kejar,” ujarnya sambil berusaha tersenyum.
“Ya, Pak. Kami jamin, ia bukan perusuh. Semua orang tahu, kok!” kata teman yang satunya lagi.
“Oya, seperti itu ya teman kalian itu?” tanya si pria gagah tadi.
“Betul sekali. Kami tidak bohong, Pak” jawab kedua temanku itu. Mendengar jawaban itu, pria gagah tersebut sesaat mematung. Ia melihat kepada kedua teman dengan penuh selidik. Tapi, dari wajahnya tidak lagi terlihat kekejaman yang menakutkan.
Hanya aku melihat, ia tidak mudah begitu saja percaya. Kedua temanku ditelanjanginya melalui tatapan matanya yang hitam tajam. Mulai dari rambut hingga ke sepatu kedua temanku dikulitinya dengan teliti.
Sesaat terlihat ia menarik nafas panjang. Apakah ia menyesal dan sudah terpengaruh dengan omongan kedua temanku tadi? Atau pria gagah itu sudah menyadari, kalau ia salah buruan kepada diriku. Entahlah, apa yang tengah terjadi saat itu?
“Ha..ha....ha.....!” tiba-tiba pria gagah itu tertawa dengan mendongakkan kepala ke atas. Seperti ingin memberitahukan kepada penguasa alam semesta, bahwa ia adalah telah menemui apa yang dicari selama ini. Seperti bahasa isyarat terima kasih.
Kedua temanku terdiam. Keduanya seperti ketakutan. Tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi. Keduanya terpaku di depan pria gagah itu. sedangkan aku di balik semak belukar ikut merasakan ketegangan.
Tak lama kemudian, si pria gagah itu kembali buka suara.
“Itu yang kami cari selama ini!” katanya dengan suara lantang.
“Maksud, Bapak?” tanya salah satu temanku.
“Teman kalian itu yang kami cari,” katanya lagi. Maka, kedua temanku makin bingung.
“Tap..tapp...tapi, kenapa Bapak mengejarnya?” kata temanku yang agak kurus badannya.
“Hahahahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, saya mengejarnya?” si pria gagah itu malah balik bertanya.
“Iya, sejak pagi kemarin teman kami Bapak buru, bahkan Bapak hancurkan kapal kami,” jelas temanku yang kurus tadi.
“Akh, itu perasaan kalian saja,” kata pria itu tanpa mimik penyesalan apapun telah mengejar kami.
“Kalian itu hanya ketakutan karena situasi dan kondisi negeri kita saat ini sudah diambang kehancuran. Jadi, semua orang pada takut melihat diri mereka sendiri. Padahal, kondisi yang buruk saat ini masih bisa diperbaiki,” jelas si pria gagah itu dengan sedikit memberi nasihat.
“Tapi, kenapa teman kami diburu?” tanya temanku lagi
“Diburu? Yang memburunya siapa?” tanya balik si pria gagah tersebut.
“Ya, kan Bapak memburu kami termasuk teman kami itu,” kata si temanku yang rambut gondrong.
“Aku tengah mencari seseorang yang hebat,” jawab si pria gagah itu tanpa menjelaskan arti orang hebat itu.
“Ya, ya..teman kami orangnya hebat, Pak!”
“Ya!” katanya singkat. Kedua temanku malah jadi bingung, apa maksud pria gagah itu berkata demikian dan kata-katanya singkat sekali. Lalu, keduanya diminta mendengarkan apa yang akan disampaikan si pria gagah itu.
“Begini, kami sedang mencari seorang yang hebat yang dapat mengerti jiwa yang kosong jiwa yang pura-pura dan prilaku manusia modern saat ini,” urainya bercerita.
“Terus...?” tanya kawanku lagi.
“Kalain tahu, kan kalau sekarang ini orang-orang pada gila. Gila, gila segalanya. Pokoknya jiwa masyarakat kita sudah nggak ketulungan sakit gilanya. Semua jadi gila!” jelasnya dengan suara yang dalam. Tentu saja, kedua temanku menjadi tidak mengerti yang dimaksud gila.
“Sedangkan tidak ada orang yang dapat menjelaskan apalagi memberikan masukan. Akibatnya, semua keputusan menjadi keputusan gila. Jalan-jalan pun dibangun oleh proyek gila-gilaan. Dana bantuan pemerintah pusat pun dikejar seperti dikejar orang gila. Kegunaannya pun semakin gila-gila di dalam laporan pertanggungjawabannya. Ya, si miskin makin lama makin banyak. Uang bank pun diberikan kepada orang-orang kaya yang gila kekayaan. Kemudian mereka berikan lagi kepada orang yang memberikan bantuan ratusan triliun itu.
“Waduh, makin tidak beres tempat kita ini,” ujar si pria gagah itu sembari menyeka kringat di keningnya.
Kalian harus tahu, bahwa proyek jalan itu memang disengaja untuk beberapa bulan. Sebab, kalau ia bagus dan tahan lama. Maka proyek para pemimpin daerah tidak ada lagi. Tapi, kalau jalan itu cepat rusak, maka proyek kangkalingkongnya terus berjalan.
“Tidak ada manfaatnya untuk orang banyak, apalagi untuk orang miskin,” tambah si pria gagah itu. Kedua temanku masih belum mengerti maksud dan tujuan pembicaraan si pria gagah tadi.
“Nah, kami butuh teman kalian itu, agar ada perubahan secara nyata. Bukan perubahan karena pernyataan yang semu,” pria gagah itu kembali menjelaskan maksud katanya.
“Owwww............” kedua temanku berdecak paham dengan uraian si pria gagah tadi. Mereka mulai bisa tersenyum memandang si pria gagah itu.
“Sudah pahamkan?” tanya pria gagah itu kepada kedua temanku.
“Sudah, Kami paham, Pak!” jawab keduanya serentak.
Usai pembicaraan itu barulah si pria gagah tersebut menguraikan maksud dan tujuannya mengejar aku. Ia, katanya sudah tahu kalau aku itu bisa diangkat jadi penasihat para pemimpin di negeri ini. Oleh karenanya ia mengejar aku itu bukan untuk dibunuh. Tetapi untuk di test kemampuannya menghindari berbagai hambatan orang-orang yang terlihat baik. Tetapi, mereka sebenarnya adalah orang-orang licik yang bersembunyi di balik senyum, di balik baju yang mahal lengkap dengan dasi dan sepatu bagus serta mobil yang tiap tahun berganti-ganti. Padahal, harga mobilnya mencapai miliaran rupiah.
“Itulah kegilaan saat ini, semua uang yang dipakai adalah uang rakyat. Tapi, apakah mereka peduli dengan rakyat banyak? Tidak!” kata si pria gagah itu.
“Waduh, aku mau diangkat jadi penasihat orang gila!” gumamku setelah mendengar pembicaraan antara kedua temanku dengan pria gagah tersebut.
Akhirnya, aku terduduk di balik semak belukar. Belum berani ke luar, karena mengetahui kemaianan di atas bukit di pinggiran desa itu. Dihadiri para tokoh hebat dan tokoh-tokoh di tengah masyarakat lainnya adalah orang-orang yang tengah menikmati kegilaan mereka.

Metro, 5 April 2008.

LOVER'S GRIEF OR HOROSCOPE?

LOVER'S GRIEF OR HOROSCOPE?
Dari buku Bangsa-bangsa Hindia Timur oleh Oliver
P. Voorhoeve OORHOEVE Lover’s Grief or Horoscope
The late Mervyn Jaspan, professor of South-East Asian sociology at Huil University, did his main fieldwork among the Rejang people in South Sumatra. His doctoral thesis From Patriliny to Matriliny. Structural Change among the Redjang of Southwest Sumatra, Canberra 1964, was unfortunately never published. Only about 50 copies were distributed. It testifies to the author's many-sided interest in all aspects of Rejang culture and to his keen gift of observation. Though not a professional linguist, he had a preference for the study of language, of literature and of the literary documents preserved in the South- Sumatran script. He collected a mass of Rejang oral texts and a considerable amount of material for a dictionary. But at the time when Jaspan was in Rejang (1961-63) documents in the old script were already scarce, and he only managed to collect a few specimens. Most of these he published in Redjang Ka-Ga-Nga Texts (1964). In a short review in this journal (BKI 124, 1968, p. 303f.) I pointed out some difficulties in die ka^ga-nga script which I thought had not been quite satisfactorily solved by the author. I did not go into the problems of transcriptión and translation, because we were then working tögether in collecting additional South-Sumatran written texts and I feit confident that the author would in the long run share some of my doübts as to the correctness of his interpretations and review these in due time.

Two of Jaspan's Ka-Ga-Nga texts are included in Indonesian traditional poetry, collected and introduced by Philip Ward, 1975, in Jaspan's transcription and "with Jaspan's English versions slightly altered". It seems appropriate now to warn against such a premature popularisation. I shall restrict my remarks to Ward's second poem, entitled "A Lover's Grief". The text and translation are:

Barat lawut
just like the sea

tunggu maring gunung
on the mountaintop.

meteri keilangan
The princess is lost

sumeui maring gunung
to the tiger on the mountaintop.

meteri kekasi
The princess, my loved one.

ruma ketunun
A house of weaving.

bulan purna(ma)
A full moon.

According to Ward, in this poem, "a youth sorrows at rejection by the girl he loves". With a brevity worthy of a Japanese haiku master, the unknown poet compares his chances of attaining her to the likelihood of the sea's reaching the mountaintop. His rival is mystically strong and powerful, like the ancestral tiger {sumeui). The poem ends as it began with a haunting image in few words: 'a house of weaving' refers to his beloved's industry; 'a full moon' is her face.
"Jaspan found this text written on a bamboo tile. A photograph of the original is published in Ka-Ga-Nga Texts, plate 5b (p. 24). It is clearly visible in the reproduction that the word tunggu should be tungga', and the transcription sumeui seems doubtful. Jaspan had hesitated between sumur and sumeui, but decided for the latter. He says that it is a Rejang word with no Malay or Javanese equivalent. It is not in his Rejang dictionary. It is not clear what exacdy he meant by 'ancestral tiger'. Above the seven lines of the text there are two more lines, containing the ka-ga-nga syllabary with varying numbers of dots above each syllable. In our search for more ka-ga-nga texts we found three other copies of this same text. All of diem have the syllabary with dots or small dashes. There is a great deal of congruence in the number of dots among the copies. Two of the texts are in manuals of divination written on tree bark, one on a bamboo cylinder together with a drawing of a human figure accompanied by disconnected syllables. This is also found in one of die bark books. In Batak divination books too one finds syllabaries with die numerical value of the letters, and human figures with separate syllables. In addition there is a jingle called tabas ni ari na pitu, incantation of the seven days, used as a mnemonic device and widely known in oral tradition. Might the South-Sumatran text of seven short lines also have some connexion widi the days of the week? And might it have been used in divination? Both questions can be answered in the affirmative. One copy of our text mentions the days of die week, and another one has the word rasiyanya, 'its secret', after each line. Perhaps this is meant as rasiannya, derived from rasi = raksi, sign of the zodiac.

The other texts are: Leiden, University.Library Or 12276, on bamboo, with a copy on paper made in Bencoolen, 1860.

barat di lawut
west at sea

tungga' maring gunung
tree stump towards mountain

beteri keilangan
princess suffering loss

sumui maring gunung
sumui(?) towards mountain

beteri kekasih
princess beloved

rumah ketunun
house burnt

bulan parename
full moon.

Mission Museum, Tilburg, ET 48-2-119, p. 34 of a tree bark book.
Jemahat bare lahut, Friday, bare(?) sea

saptu tunggak maring gunung
Saturday, tree stump towards mountain

ha'at menteri kasih
Suhday, minister loving

senin menteri kilangan
Monday, minister suffering loss

selase sumur atas gunung
Tuesday, water well on mountain

rebu rumah ketunun
Wednesday, house burnt

keinis bulan parename
Thursday, full moon.


Mission Museum, Tilburg, ET 48-2-120, p. 17 of a tree bark book.

garang ketunun rasiyenye
things burnt is its rasiye

tunggak maring gunung rasiyenye
tree stump towards mountain is its r.

menteri suke same kasih rasiyenye
minister glad and loving is its r.

menteri kehilangan rasiyenye
minister suffering loss is its r.

rumur maring gunung rasiyenye
water well towards mountain is its r.

rumah ketunun rasiyenye
house burnt is its rasiye

bulan parename rasiyenye
full moon is its rasiye

bangka' rasiyenye
old betel nut(?) is its rasiye.

(I guess that garang should be barang and I am sure that rumur is a scribal error for sumur.)


In this last version one line has been added, possibly to make the number of lines fit a divination table in the shape of the eight points of the compass. The orthography of the three additional versions is not Rejang but Middle-Malay. We may conclüde that Jaspan's 'Lover's Grief was once widely known in South Sumatra as a jingle used for divination in connexion with the seven days of the week and the numerical value of letters. Jaspan has remarked that an 'almost identical' text is used as an incantation in the ceremonies accompanying the garnering of wild bees' honey (BKI 123, 1967, p. 499). In the divinatory jingle there is no apparent connexion between the seven lines. There may be, or may have been, such a connexion, which remains hidden to an outsider not iniriated in Malay divination.
Is it possible that this hidden, or lost, original meaning was correctly ascertained by Jaspan with the help of his Rejang informants? Was it originally a love poem? I think that the comparison of the four versions makes this extremely improbable. In the first line barat is doubtful; if it is correct the obvious meaning of barat laut would be north-west, not 'as (ibarat) the sea'. In the second line tunggu was a slip of Jaspan's pen, which he corrected in BKI 123 to tungga', fout he did not adapt his translation to this
change. Tungga' or tunggak is in all the versions; it means tree stump.
In the third and fifth lines the Rejang princess (meteri, Rej. pronunciation meterai) is confirmed by one Middle-Malay beteri, but two versions have a minister (menteri). In the fourth line the word sumeui or sumui remains suspect. In Jaspan's text and in the Leiden MS. the diphthong is expressed in writing by a combination of the u and ai signs. This is very uncommon in rènchong script. It seems much more probable that in these two MSS. the sign above the syllable means -r, not ai, just as the slightly different sign in the two Tilburg copies. Thus sumur, a well, would be meant in all the versions. In the sixth and seventh lines all the versions agree.
Jaspan's translation 'a house of
weaving' is out of the question, because ketunun (from Jav. tunu) means 'burnt' and has nothing to do with tenun (weaving). The full moon in the last line fits astrology as well as poetry. I am afraid that Ward's 'unknown poet' was born in 1961 during Jaspan's consultations with his Rejang informants and did not inspire the dukuns who wrote divination manuals a hundred years earlier.

http://www.kitlv-journals.nl/files/pdf/art_BKI_1098.pdf
2008-06-09
Seramba (Pantun) dari Tanah Rejang
(di petik dari buku Memorandum of Journey to the summit gunong Benko, tahun 1822)
at Monday, June 09, 2008. Retype by TaneakJang admin
Mudah mudahan artikel ini bisa jadi bahan kajian sastra daerah Rejang yang sangat minim sekali di Pelajari – admin

Memutih umbak di rantau kataun
Patang dan pagi tida berkala
Memuti bunga de dalam kebun
Sa tangkei saja iang menggila

Guru berbuni sayup sayup
Orang di bumi samoa bembang
Jika ada angin ber tiup
Ada kah bunga mau kambang

Ayer dalam ber tambah dalam
Ujan di ulu bulum lagi tedoh
Hati dendam ber tambah dendam
Dendam daulu bulum lagi semboh

Parang bumban di sabrang
Pohon di hela tiada karuan
Bulan purnama niatalah bindrang
Sayang nia lagi di sapur awan

Ulak berulak batu mandi
Kian ber ulak tenang jua
Hindak ber tunah tunah ati
Dewa membawa bembang jua

Permata jatu di rumput
Jatu di rumput ber gelang gelang
Kasih umpama ambun di ujong rumput
Datang matahari nischaya hilang

Telah lama tiada ka rimbo
Bumban ber buah garangan kini
Telah lama tiada ber suo
Dendan berubah garangan kini

Jeka sungguh bulan purnama
Mengapa tiada di pagar bintang
Jeka sungguh tuan bijaksana
Mengapa tiada dapat di tintang

Unggas bukan, chintayu bukan
kira-nia daun selara tubbu
Aches bukan, Malayu bukan
Pandei nia amat bermain semu

Bagimana menangkap landak
Di basob pinto nia dengan api
Bagimana mula ber kahindak
Deri mata turun ka hati

Beberapa contoh Seramba tak beraturan,yang biasa dituturkan orang rejang dan serawai,
Berikut ini contoh untuk seramba pembuka :

Pandak panjang rantau di musi
Maso memamo rantau tenang
Rantau aman pandak sakali
Hendak anggan wong ku puji
Mimpin bulan sanak bintang
Anak penakan matahari

Dan dijawab dengan :

Burong terbang mengulindang
Sangkan terbang pagi pagi
Hindakkan bunga jeruju
Amun wong sintano bulan
Richang sintano matahari
Timbang betating ber teraju

Titiran pikat nibang hari
Ingunan si Jiwo Jiwo
Jadi kampong burong tiong
Jadi koum punei siulan
Bringin di mana garangan masak
Merangei meruntuh daun
sanalah dio maridawan
Amun sakali kali lagi
Taulah aku di idar`o
Hindak niabong ayam tangkap
Hindak siri rai peliman
Hundak bunga
Karang ko tubo
kundang wong di rindu jangan
amun asso rindukan dio
Tangisi kian dalam hati

Ada juga yang berisi serambah tentang teka - teki (puzzle) :

Ada kayu indan sabatang
Tumbuh di padang maha leber
Beringin bukan Beringin
Kruya bukan Kruya
Badahan ganio ampat dahan
Badaun ganio ampat daun
Sa dahan chondong ka langit
Niat ka mana bulan bintang
Sa dahan chondong ka laut
Niat ka mana raja ikan
Sa dahan chondong ka gunung
Niat ka mana gaja indan
Sa dahan chongdong ka bumi
niat ka mana anak Adam
Amun territi sili warang
Wong ku angkan dio guru
Amun de teritti sili-warang
wong ku angkan anak murid

Dari buku : The Asiatic Journal and Monthly Miscellany hal 132 – 133 bab :Journey to gunong Benko
http://books.google.co.id hal 67 68 69

TENTANG REJANG


Tentang Rejang
Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku bangsa Melayu.Suku rejang diyakini berasal dari kerajaan maja pahit dan kemudian menyebar sampai ke daerah Lebong, kepahiang, sampai di tepi sungai ulu musi di perbatasan dengan Sumatera Selatan. Suku rejang terbanyak menempati Kabupaten rejang Lebong dan kab. sekitarnya yang kini memekarkan diri menjadi kabupaten Rejang Lebong(induk), Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Bila kita lihat dari dialek bahasa yang digunakan, sangat jelas perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa daerah di Sumatra lainnya dengan bahasa Rejang. Suku Rejang menempati Bengkulu Utara, Lebong dan di kabupaten Rejang Lebong.Suku ini merupakan terbesar di provinsi Bengkulu

Jika mengacu pada sistem kelembagaan lokal atau local community masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lebong adalah komunitas kampung yang di sebut dengan dengan istilah lokal Kutai atau Dusun yang berdiri sendiri yang merupakan kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral dengan sistem garis keturunan yang patrilineal dan dengan cara perkawinan yang eksogami, aplikasi sistem lokal ini kemudian di terjemahkan dengan sistem kelembagaan Marga, sebuah sistem adopsi dari sistem pemerintahan Kesultanan Pelembang. Ada beberapa kesatuan kekeluargaan yang relatif masih tegas asal usul, wilayah tata aturan lokal di Kabupaten Lebong masing-masing kekeluargaan tersebut kemudian di sebut dengan Marga. John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779) menceritakan tentang adanya empat Petulai Rejang diantaranya Jekalang (Joorcalang), Selupuak (Selopoo), Manai (Beremani), Tubey (Tubay) di sisi lain Dr. J.W. Van Royen dalam Laporannya “adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” menyatakan bahwa Marga-Marga tersebut merupakan kesatuan Rejang yang paling murni.

Investor Inggris Habiskan Rp84,477 M

Teliti Potensi Emas Bengkulu,
Investor Inggris Habiskan Rp84,477 M
PT Sumatera Copper and Gold Limited, sebuah perusahaan modal asing dari Inggris telah menghabiskan dana Rp84,477 miliar untuk melakukan penelitian potensi emas di Bengkulu.
Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamuddin di Bengkulu, Selasa mengatakan besarnya investasi yang telah ditanamkan, membuktikan perusahaan tersebut sangat serius untuk berinvestasi dibidang pertambangan emas di daerah itu.
“Kita menyambuat baik itu, dan mudah-mudahan kegiatan investasi bisa berjalan lancar mulai dari eksplorasi hingga eksploitasi,” katanya.
Dari total nilai investasi yang telah ditanamkan, sebesar Rp13,756 miliar diantaranya untuk kegiatan eksplorasi (penelitian) selama 2006 dan Rp70,721 miliar kegiatan penelitian 2007.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu Surya Gani, menjelaskan perusahaan itu melakukan ekspolirasi pada lahan seluas 249 ribu hektare berlokasi di Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara dan Muko Muko.
Sebelumnya, sebuah perusahaan emas terbesar di dunia asal Kanada yakni PT. Burik International Limited (Ltd) juga telah melakukan eksplorasi dan kini sudah pada tahap survey kandungan emas.
Mengenai kandungan emas di Bengkulu, menurut dia belum ada data riil namun kalau perusahaan asing tertarik biasanya sangat banyak.
“Logikanya mereka tidak akan berani menghabiskan uang dan waktu untuk melakukan ekplorasi jika tidak mengatahui kandungan emasnya banyak. Proses ekplorasi memerlukan uang dan waktu banyak,” katanya.
PT Burik International Limited, sebagai perusaan pertambangan emas terbesar di dunia tidak akan jauh-jauh datang ke satu daerah untuk melakukan ekspolrasi jika yakin ada kandungan emasnya.
Dalam melakukan ekspolitasi, katanya, perusahaan tersebut akan bekerjasama dengan PT Prisai Utama yang rencananya akan membentuk perusahaan baru.
Selain melakukan penyelidikan, investor asal Kanada itu kini sedang mengurus izin di Depertemen Kehutanan untuk melakukan kegiatan penambangan di hutan lindung.
“Sebagian besar potensi emas di Bengkulu berada di hutan lindung, jadi penggarapannya memang harus ada izin dari Departemen Kehutanan,” katanya.
Sesuai UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, kegiatan penambangan di hutan lindung harus ada izin dan bentuk kegiatannya tidak boleh tambang terbuka.
Mengenai data perkiraan kandungan emas di Bengkulu sekitar 3, 410 juta ton, dengan rincian terukur 3,3 juta dan tereka 100 ribu, menurut dia itu baru perkiraan dan sepertinya jumlah riilnya jauh lebih besar. (kpl/rit)

Sengketa Batas Dipicu Kepentingan Politik

Sengketa Batas Dipicu Kepentingan Politik
Munculkan sengketa perbatasan antara kabupaten di Provinsi Bengkulu, karena dipicu adanya kepentingan politik dari para elit kedua daerah yang bermasalah.
“Kalau saya melihat, adanya sengketa itu lebih dikarenakan kepentingan politik. Para elit di dua daerah yang bersengketa sama-sama ngotot mempertahankan kawasan perbatasan yang bermasalah karena ingin mendapatkan dukungan dari masyarakat,” kata Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol Soedibyo disela-sela memimpin pertemuan penyelesaian batas wilayah antara Kabupaten Lebong dengan Bengkulu Utara, Kamis (27/12).
Menurut dia, sebenarnya mengenai tapal batas antara kabupaten di daerah itu tidak ada masalah, namun karena ada kepentingan itulah maka kini timbul masalah.
Dalam UU pembentukan kabupaten, kata dia, sebenarnya telah dijelaskan batas wilayah dari masing-masing daerah itu, namun memang tidak disebutkan titik koordinatnya, hanya diatur perbatasannya.
Ia mencontohkan, dalam UU No 39/2003 tentang Pembentukan Kabupaten Lebong, hanya disebutkan, batas Lebong ke bagian selatan yakni perbatasan dengan Kecamatan Giri Mulya, Kabupaten Bengkulu Utara.
Untuk titik koordinat dan pemasangan patok batas, harus diselesaikan oleh kedua daerah yang berbatasan, lalu kemudian diajukan ke Depdagri untuk disahkan. Ia juga menilai, dari awal terjadi kesalahan dalam menangani masalah perbatasan itu. Menurut aturan, soal batas wilayah harus sudah diselesaikan paling lambat dua tahun setelah pemekaran atau pembentukan daerah.
“Yang terjadi, kan tidak seperti itu, masalah batas wilayah malah berlarut-larut, dan pada akhirnya menimbulkan sengketa, dan sengketa batas itu kemudian diprovokasi sehingga menimbulkan perkelahian antar masyarakat yang bermukim di perbatasan,” katanya.
Menurut dia, kalau ada komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebenarnya tidak perlu ada sengketa perbatasan, karena masalah batas wilayah hanyalah permasalahan administrasi dari sebuah daerah.
“Kalau mau sebenarnya gampang menyelesaikannya. Kedua daerah tinggal duduk bersama untuk mengambil kata sepakat, kemudian bersama-sama memasang patok batas wilayah, jadi tidak perlu ada konflik segala” katanya.
Sedangkan masyarakat, boleh tinggal di mana pun. Warga Lebong boleh tinggal di Bengkulu Utara, bahkan warga Bengkulu boleh tinggal di Jakarta. Tidak ada yang melarang, karena semuanya masih bagian dari NKRI.
Tapi karena ada kepentingan, maka masalah tapal batas kemudian menimbulkan konflik, yang ujungnya juga menimbulkan masalah kriminal seperti perkelahian antara warga seperti yang terjadi di Rejang Lebong dan Kepahiang, serta intimidasi.
Untuk itu, Kapolda mengaku terus mendesak pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten yang bersengketa agar segera menyelesaikan masalah tapal batas itu.
“Terus terang saya punya kepentingan dengan masalah tapal batas itu, yakni tidak ingin akibat berlarut-larut kemudian ada tindakan kriminal, sebab itu saya terus mendesak agar pemerintah daerah segera menyelesaikannya,” tegasnya.
Paska pemekaran wilayah di Provinsi Bengkulu, menyisakan konflik perbatasan yakni antara Kabupaten Lebong dengan Bengkulu Utara, Kepahiang-Rejang Lebong, Seluma-Bengkulu Selatan dan Kaur dengan Bengkulu Selatan.
Penyelesaian persoalan batas yang berlarut-larut telah memicu bentrokan yang berunjung pembacokan yang dilakukan oleh Kepala Desa Durian Depun SF dan anaknya No terhadap Ketua BPD Zulkarnain.
Peristiwa itu terjadi, Senin (22/01) sekitar pukul 15.30 WIB, dan berawal dari keinginan korban bersama sekitar 200 warga dari enam desa yang berada di perbatasan untuk memasang batas wilayah di pinggir sungai Ka.
Namun, ketika mereka akan menurunkan papan tapal batas dari atas truck, tiba-tiba muncul SF dan No, dengan parang terhunus mereka langsung mengejar Zulkarnain dan terjadilah pembacokan itu. (*/lpk)

Asal Usul Komunitas Adat Rejang

SUKU bangsa Rejang yang dewasa ini bertebaran tentunya mempunyai asal usul mula jadinya, dari cerita secara turun temurun dan beberapa karangan-karangan tertulis mengenai Rejang dapatlah dipastikan bahwa asal usul suku bangsa Rejang adalah di Lebong yang sekarang dan ini terbukti dari hal-hal berikut :
• John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779), memberikan keterangan tentang adanya empat Petulai Rejang, yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (selupu) dan Toobye (Tubay).
• J.L.M Swaab, Kontrolir Belanda di Lais (1910-1915) mengatakan bahwa jika Lebong di angap sebagai tempat asal usul bangsa Rejang, maka Merigi harus berasal dari Lebong. Karena orang-orang merigi memang berasal dari wilayah Lebong, karena orang-orang Merigi di wilayah Rejang (Marga Merigi di Rejang) sebagai penghuni berasal dari Lebong, juga adanya larangan menari antara Bujang dan Gadis di waktu Kejai karena mereka berasal dari satu keturunan yaitu Petulai Tubei.
• Dr. J.W Van Royen dalam laporannya mengenai “Adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” pada pasal bengsa Rejang mengatakan bahwa sebagai kesatuan Rejang yang paling murni, dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang dari satu Bang dan harus diakui yaitu Rejang Lebong.
• Pada mulanya suku bangsa Rejang dalam kelompok-kelompok kecil hidup mengembara di daerah Lebong yang luas, mereka hidup dari hasil-hasil Hutan dan sungai, pada masa ini suku bangsa Rejang hidup Nomaden (berpindah-pindah) dalam tatanan sejarah juga pada masa ini disebut dengan Meduro Kelam (Jahiliyah), dimana masyarakatnya sangat mengantungkan hidupnya dengan sumber daya alam dan lingkungan yang tersedia.
• Barulah pada zaman Ajai mereka mulai hidup menetap terutama di Lembah-lembah di sepanjang sungai Ketahun, pada zaman ini suku bangsa Rejang sudah mengenai budi daya pertanian sederhadan serta pranata sosial dalam mengatur proses ruang pemerintahan adat bagi warga komunitasnya. Menurut riwayat yang tidak tertulis suku bangsa Rejang bersal dari Empat Petulai dan tiap-tiap Petulai di Pimpin oleh seorang Ajai. Ajai ini berasal dari Kata Majai yang mempunyai arti pemimpin suatu kumpulan manusia.
• Dalam zaman Ajai ini daerah Lebong yang sekarang masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis atau sering juga di sebut sebagai Kutai Belek Tebo. Pada masa Ajai masyarakat yang bekumpul sudah mulai menetap dan merupakan suatu masyarakat yang komunal didalam sisi sosial dan kehidupannya sistem Pemerinatahan komunial ini di sebut dengan Kutai. Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan antara masyarakat tersebut terhadap hak kepemilikan secara komunal. Semua ketentuan dan praktek terhadap hak dan kepemilikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat dipimpin oleh seorang Ajai. Walaupun sebenarnya dalam penerapan di masyarakat seorang Ajai dan masyarakat lainnya kedudukannya tidak dibedakan atau dipisahkan berdasarkan ukuran derajad atau strata.
Sungguhpun demikian pentingnya kedudukan Ajai tersebut dan di hormati oleh masyarakatnya, tetapi masih dianggap sebagai orang biasa dari masyarakat yang diberi tugas memimpin, ke empat Ajai tersebut adalah:
• Ajai Bintang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Pelabai suatu tempat yang berada di Marga Suku IX Lebong
• Ajai Begelan Mato memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Kutai Belek Tebo suatu tempat yang berada di Marga Suku VIII, Lebong
• Ajai Siang memimpin sekumpulan manusai yang menetap di Siang Lekat suatu tempat yang berada di Jurukalang yang sekarang.
• Ajai Malang memimpin sekumpulan manusia yang menetap di Bandar Agung/Atas Tebing yang termasuk kedalam wilayah Marga Suku IX sekarang.

Pada masa pimpinan Ajai inilah datang ke Renah Sekalawi empat orang Biku/Biksu masyarakat adat Rejang menyebutnya Bikau yaitu Bikau Sepanjang Jiwo, Bikau Bembo, Bikau Pejenggo dan Bikau Bermano. Dari beberapa pendapat menyatakan bahwa para Bikau ini berasal dari Kerajaan Majapahit namun beberapa tokoh yang ada di Lebong berpendapat tidak semua Bikau ini bersal dari Majapahit. Dari perjalan proses Bikau ini merupakan utusan dari golongan paderi Budha untuk mengembangkan pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit, dengan cara yang lebih elegan dan dengan jalan yang lebih arif serta mementingkan kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya lokal.
Melalui strategi para utusan Menteri Kerajaan seharusnya tidak lagi berusaha untuk menyebarkan kebudayaan serta bahasa Jawa. Oleh karena itu golongan paderi Budha yang memiliki tindakan yang tenang dan ramah tamah, dengan mudah dapat diterima dan masyarakat Rejang. Terbukti bahwa keempat Biku tersebut bukanlah mempunyai maksud merampas harta atau menerapkan upeti dan pajak terhadap Raja Majapahit, namun mereka hanya memperkenalkan kerajaan Majapahit yang tersohor itu dengan raja mudanya yang bernama Adityawarman. Sewaktu mereka sampai di Renah Sekalawi keempat Biku tersebut karena arif dan bijaksana, sakti, serta pengasih dan penyayang, maka mereka berempat tidak lama kemudian dipilih oleh keempat kelompok masyarakat (Petulai) dengan persetujuan penuh dari masyarakatnya sebagai pemimpin mereka masing-masing.
• Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang
• Biku Bembo menggantikan Ajai Siang
• Biku Bejenggo menggantikan Ajai Begelan Mato
• Biku Bermano menggantikan Ajai Malang
Setelah dipimpin oleh empat Biku, Renah Sekalawi berkembang menjadi daerah yang makmur dan mulai produktif pertaniannya sudah mulai bercocok tanam, berkebun dan berladang. Sehingga pada saat itulah kebudayaan mereka semakin jelas dan terkenal dengan adanya tulisan sendiri dengan abjad Ka-Ga-Nga (sampai sekarang masih lestari dan di klaim menjadi tulisan asli Bengkulu).
Setelah keempat Biku terpilih untuk memimpin kelompok masyarakat mendapat sebuah tantangan dalam bentuk bencana wabah penyakit yang menyerang masyarakat. Bencana itu terjadi kira-kira akhir abad ke XIII, wabah penyakit yang banyak merenggut jiwa masyarakat tanpa memandang umur dan jenis kelamin. Menurut ramalan para ahli nujum setempat yang menyebabkan datangnya musibah itu adalah seekor beruk putih yang bernama Benuang Sakti dan berdiam di atas sebuah pohon yang besar di tengah hutan.
Untuk mencari jalan keluar atas bencana yang terjadi, keempat Biku itu bersepakatlah untuk mencari pohon besar tersebut dan segera menebangnya dengan sebuah harapan setelah ditebang dapat mengakhiri wabah yang terjadi. Setelah membagi tugas masing-masing mereka berpencar ke segala penjuru hutan dan akhirnya rombongan Biku Bermano sampai dan menemukan pohon besar yang mereka cari, mereka kemudian segera untuk menebang pohon besar itu, namun usaha mereka tidak berhasil menebang pohon tersebut karena semakin ditebang oleh kapak, pohon tersebut semakin bertambah besar, kejadian yang sama terjadi, setelah rombongan dari Biku Sepanjang Jiwo sampai di tempat yang sama dan mencoba untuk menebang pohon besar itu, disusul rombongan dari Biku Bejenggo tetapi pohon itu pun tidak juga roboh. Pada saat itu munculah rombongan terakhir yaitu Biku Bembo dan kepada mereka diceritakan kejadian aneh yang mereka alami dalam menebang pohon besar yang tidak mau roboh setelah ditebang bahkan pohon itu bertamah besar.

“Riwayat saat bertemu rombongan pimpinan Biku Bembo bertemu dengan ketiga rombongan di tempat ditemukannya pohon besar yang di atasnya ada beruk putih bernama Benuang Sakti berada terlontarlah kata-kata dalam bahasa Rejang: pio ba kumu telebong yang berarti di sini kiranya saudara-saudar berada. Sejak peristiwa itu Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong”.
Setelah diceritakan kejadian yang terjadi kepada rombongan Biku Bembo, mereka bermusyawarah untuk mengatasi masalah yang terjadi itu dan bersepakat meminta petunjuk kepada Sang Hiang (Yang Maha Kuasa) supaya dapat mencari cara bagaimana menebang pohon besar itu supaya dapat ditebang. Cara yang dilakukan oleh keempat Biku itu adalah dengan betarak (bertapa), setelah betarak dilakukan mereka mendapat petunjuk pohon itu dapat ditebang kalau dibawahnya digalang/ditopang oleh tujuh orang

gadis muda/remaja.
Setelah itu mereka bergegas menyiapkan segala sesuatu petunjuk yang didapat oleh Sang Hiyang termasuk bagaimana caranya mereka mencari akal supaya ketujuh gadis itu supaya tidak menjadi korban atau mati tertimpa oleh pohon besar yang akan dirobohkan. Selanjutnya mereka menggali parit untuk menyelamatkan ketujuh gadis penggalang itu. Setelah pekerjaan membuat parit dan ketujuh gadis siap untuk menggalang pohon yang akan dirobohkan, maka mulailah pohon besar itu ditebang dan sesungguhnya pohon itu roboh di atas tempat ketujuh gadis penggalang. Parit yang dibuat tepat di tempat rebahnya pohon besar yang telah ditebang telah menyelamatkan ke tujuh gadis dari maut dan terlindungi di dalam parit yang dibuat.
“Peristiwa yang diriwayatkan di atas dijadikan awal dari pemberian nama bagi petulai-petulai mereka sesuai dengan pekerjaan rombongan pemimpin masing-masing dalam usaha menebang pohon besar dimana tempat bersemayam beruk putih Benuang Sakti”.
* Petulai Biku Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui atau Tubai, asal kata dari bahasa Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun.
• Petulai Biku Bermano diberi nama Bermani, asal kata ini dari bahasa Rejang “beram manis” yang berarti tapai manis.
• Petulai Biku Bembo diberi nama jurukalang, asal kata dari bahasa Rejang “kalang” yang berarti galang.
• Petulai Biku Bejenggo diberi nama Selupuei asal kata dari bahasa Rejang “berupeui-uoeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk.
Maka sejak saat itulah Renah Sekalawi bernama Lebong dan tercipta Rejang Empat petulai yang menjadi Intisari dan asal mula suku bangsa Rejang.
Kesepakatan yang di bangun setalah prosesi penebangan kayu Benuang Sakti ini semua rakyat di bawah pimpinan Bikau Sepanjang Jiwo di mana saja mereka berada di satukan di bawah kesatuan Tubey dan berpusat di Pelabai. Dengan kembalinya Bikau Sepanjang Jiwo ke Majapahit atau ada yang berpendapat ke bagian Majapahit Melayu yang berfusat di Pagar Ruyung, kepemimpinan Bikau ini kemudian di gantikan oleh Rajo Mengat atau Rajo Mudo Gunung Gedang yang kedatangannya dapat diperkirakan sekitar abad ke-15.
Baru setelah kepemimpinan Rajo Mengat ini yang digantikan oleh anaknya bernama Ki Karang Nio yang memakai gelar Sultan Abdullah akibat pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan untuk invansi wilayah, maka anak komunitas ini bertebaran dan membentuk komunitas-komunitas baru atas kesepakatan besar yang dilakukan di Lebong kemudian Petulai Tubey ini dipecahkan menjadi Marga Suku IX yang berkedudukan di Kutai Belau Saten, Marga Suku VIII di Muara Aman dan Merigi untuk pecahan Petulai Tubey di Luar wilayah Lebong.
Petulai Selupu tidak pecah dan tetap utuh walaupun anggota-anggotanya bertebaran ke mana-mana. Menurut riwayat Bikau Pejenggo yang mengantikan Ajai Malang ini berkedudukan di Batu Lebar di Kesambe yang merupakan wilayah Rejang, sedangkan
Desa Administratif Atas Tebing include ke dalam wilayah adat Selupu Lebong yang merupakan wilayah desa yang berbatasan dengan wilayah adat Rejang Pesisir dan Desa Suka Datang berada dalam wilayah Marga Suku IX secara fisik berbatasan dengan wilayah Adat Bintunan Rejang Pesisir.

Sistem Kelembagaan Komunal/Adat
Dari resume yang ditulis di atas dapat diketahui bahwa asal usul suku bangsa Rejang dari Lebong dan berasal dari empat Petulai yaitu Jurukalang, Bermani, Selupu dan Tubey. Dari Tulisan Dr Hazairin dalam bukunya De Redjang yang mengutip tulisan dari Muhammad Husein Petulai di sebut juga dengan sebutan Mego.
Hal ini di perkuat juga dengan tulisan orang-orang inggris yang pernah di Bengkulu Marsden dan Raffles demikian juga dengan orang Belanda Ress dan Swaab menyebut juga perkataan Mego.
Petulai atau Mego ini adalah kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral dengan sistem garis keturunan yang patrilinial dan perkawinan yang eksogami, sekalipun mereka terpencar dimana-mana. Sistem eksogami ini merupakan syarat mutlah timbulya
Petulai/clan sedangkan sistem kekeluargaan yang patrilineal sangat mempengaruhi sistem kemasyarakatan dan akhirnya mempengaruhi bentuk kesatuan dan kekuasaan dalam masyarakat.
Pada zaman Bikau masyarakat di atur atas dasar sistem hukum yang di buat berdasarkan azas mufakat/musyawarah, keadaan ini melahirkan kesatuan masyarakat hukum adat yang disebut dengan Kutai yang dikepalai oleh Ketuai Kutai. Kutai ini bersal dari Bahasa dan perkataan Hindu Kuta yang difinisikan sebagai Dusun yang berdiri sendiri, sehingga pengertian Kutai ini adalah kesatuan masyarakat hukum adat tunggal yang geneologis dengan pemerintahan yang berdiri sendiri dan bersifat kekeluargaan.
Pada Zaman kolonial kemudian sistem kelembagaan dan pemerintahan adat ini oleh Assisten Residen Belanda J. Walland (1861-1865) kemudian mengadopsi sistem pemerintahan lokal yang ada di wilayah Palembang dengan menyebut Kutai atau Petulai ini dengan sebutan Marga yang dikepalai oleh Pesirah. Dengan bergantinya sistem pemerintahan ini Kutai di ganti dengan sebutan Dusun sebagai kesatuan masyarakat hukum adat secara teroterial di bawah kekuasaan seorang Kepala Marga yang bergelar Pesirah. (team AMARTA: Salim Senawar, Erwin S Basrin, Madian Sapani, Henderi S Basrin, Sugianto Bahanan, Hadiyanto Kamal, Riza Omami, Bambang Yuroto)

Potensi Provinsi Bengkulu

Sumber : indosiar.com
Provinsi Bengkulu terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dengan garis pantai sepanjang 530 kilometer. Ibukota provinsi ini baru terbentuk tahun 1968.Sebelumnya Kota Bengkulu hanya Ibukota Kabupaten Bengkulu Utara dan merupakan bagian dari Sumatera Selatan.
Kota Bengkulu kini memiliki empat kecamatan yaitu Teluk Segara, Gading Cempaka, Kepahiang, dan Selabar.Sebagai kota pesisir, sebagian penduduknya menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Belakangan ini banyak perahu nelayan yang tidakberlayar. Hasil tangkapan ikan di laut semakin hari semakin berkurang. Ini akibat ulah nelayan dari luar Bengkulu yang menggunakan pukat harimau.
Ekosistem di perairan Bengkulu menjadi terganggu. Menangkap ikan dengan menebar pukat di tengah laut, kini menjadi salah satu alternatif, meski yang diperoleh nyatanya lebih banyak ikan-ikan kecil seperti ini.Pelabuhan Bengkulu terletak di Pulau Baai, sekitar 20 kilometer dari Pusat Kota.
Hanya kapal-kapal yang mengangkut bahan-bahan strategis seperti kelapa sawit dan semen, yang bersandar di sini.Bengkulu juga menyimpan potensi wisata yang dapat dikembangkan. Letak geografis, sejarah, budaya, dan kekhasan alamnya, adalah andalan yang dapat menarik minat pelancong.Pantai Panjang ini misalnya. Pantai yang membentang sepanjang tujuh kilometer dengan lebar 500 meter dari jalan raya ini dihiasi dengan jejeran pohon cemara.
Berbagai aktivitas wisata atau rekreasi pantai dapat dilakukan di pantai yang memiliki pasir putih ini. Masyarakat Bengkulu biasa menghabiskan waktu di pantai untuk menikmati matahari terbenam atau melakukan sekdar berolahraga pantai. Ombak di Pantai Panjang ini meski tidak begitu besar namun relatif rawan untuk dijadikan lokasi berenang.Meski dipasang tanda peringatan dilarang berenang namun ada saja yang tak mengindahkannya. Transportasi umum cukup mudah untuk menjangkau Pantai Panjang. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota.Bila ingin bermalam, di sepanjang pantai ini terdapat fasilitas penginapan seperti hotel dan cottage, lengkap dengan fasilitasnya. Untuk dapat menikmati keindahan pantai di Bengkulu dari ketinggian, Kami menuju ke sebuah menara yang terdapat di salah satu hotel berbintang di kota ini.Dari satu-satunya menara ini Kami dapat melihat kota Bengkulu dengan jelas.
Beberapa objek wisata juga dapat dilihat dari sini. Antara lain Benteng Marlborough yang merupakan peninggalan sejarah pada masa penjajahan Inggris.Benteng ini dibangun tahun 1714 sampai 1719, pada kepemimpinan Gubernur Joseph Collet. Konon Presiden Soekarno pernah ditahan di salah satu kamar benteng ini oleh penjajah Belanda.Di benteng ini terdapat lorong bawah tanah yang tersambung ke Pantai Panjang dan Gedung Daerah. Masih ada lagi objek wisata Bengkulu yang dapat dilihat dari sini, Taman Laut Pulau Tikus.Pulau Tikus yang terletak di sebelah barat Kota Bengkulu dapat ditempuh satu jam dengan menggunakan speedboat dari Kota Bengkulu.
Pulau Tikus yang luasnya satu setengah hektar, dikelilingi karang dan kaya dengan hutan yang cocok untuk berwisata.Karena berpasir putih, Pulau Tikus pada malam hari menjadi habitat penyu sisik dan penyu hijau yang naik ke darat untuk bertelur. Di kawasan laut Pulau Tikus ini terdapat lokasi yang aman untuk menyelam ke dasar laut. Tapak Padri juga salah satu bagian dari kawasan objek wisata Benteng Marlborough yang terletak di Pusat Kota Bengkulu.Kami menyusuri kawasan ini bersama pejabat Pemda Kota Bengkulu. Yang menarik, adalah saat memenadang ke laut lepas, terutama kala menjelang terbenamnya matahari.
Rencananya Pemerintah Kota Bengkulu akan mencanangkan kawasan bertaraf internasional di lokasi ini.Diperkirakan dalam 2 hingga 3 tahun mendatang Tapak Padri sudah menjadi kawasan yang layak dikunjungi turis mancanegara. Pemerintah Kota Bengkulu akan mengelolanya secara profesional dengan melibatkan pihak swasta. Andalan lain yang dimiliki Bengkulu adalah kekayaan budaya.
Budaya itu masih lestari….Satu diantaranya yang telah menjadi agenda tetap setiap tahunnya adalah perayaan tabot. Perayaan tabot di Bengkulu dilaksanakan selama 10 hari berturut-turut pada bulan Muharam.Perayaan ini merupakan peringatan atas gugurnya Husein, cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala saat melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Dalam rangkaian acara perayaan tabot biasanya selalu dirangkai dengan berbagai festival dan kesenian.Misalnya seperti pada perayaan tabot 2006 yang dilangsungkan di Lapangan Merdeka.
Pada perayaan ini digelar festival dol, festival tabot, telong-telong dan seni tari.Kemeriahan festival tabot ini sudah terasa sejak beberapa hari sebelum acara berlangsung.Di beberapa sudut kampung, Kami melihat sekumpulan anak-anak yang tekun berlatih dol dan menari. Ada juga yang sibuk mempersiapkan diri untuk tampil di malam pembukaan tabot. Persiapannya terbilang serius, karena perayaan tabot kali ini digelar untuk tingkat propinsi.
Biasanya hanya setingkat kota Bengkulu.Suasana pembukaan perayaan tabot berlangsung meriah, dengan panggung yang bernuansakan rumah adat Bengkulu.Tarian Bangkahullu Menjadi Pembuka ....Tarian adat pada malam bedendang ini menggambarkan kesukacitaan. Gerakannya dikembangkan dari lenggang Bangkahullu bercampur warna melayu. Pada malam ini tampil musik dol yang dipadu dengan suling dan tasa. Perpaduan harmonis alat musik dol dengan alat musik lainnya.Musik dol ini juga mengiringi tarian jari-jari menjara yang menggambarkan Husein, cucu Nabi Muhammad yang rela mati syahid melawan pasukan Yazid Bin Muawiyah di Padang Karbala.Ratusan obor bambu yang dipasang di sekeliling panggung menyatukan suasana meriah seremonial dan sakralitas ritual tabot.
Belasan orang berjubah putih di panggung menambah kesakralan acara. Mereka akan melakukan prosesi ritual pengambilan tanah sebagai simbol dimulainya ritual tabot. Pentas lomba dol juga mewarnai festival tabot.Saat itu ada 14 kelompok yang ikut serta. Peserta ini bukan hanya remaja berusia 15 hingga 25 tahun, tapi juga anak-anak. Meski kedengarannya lagu yang mereka mainkan nyaris sama, namun masing-masing kelompok berusaha tampil maksimal dengan gaya andalan mereka.
Ada yang menonjolkan sisi busananya. Ada juga yang mengedepankan alat musik yang dikolaborasi dengan dol. Lapangan Merdeka yang digunakan sebagai tempat diselenggarakannya festival tabot selama 10 hari tak pernah sepi dari pengunjung.Kesempatan ini digunakan para pedagang untuk meraup keuntungan. Ribuan pengunjung menyerbu 90-an stan yang berada di arena bazaar ini. Berbagai jenis produk dapat dijumpai, namun yang menarik perhatian kami adalah stan produk lokal seperti dol.Alat musik yang digunakan dalam prosesi tabot ini begitu diminati pengunjung yang memburu dol mini sebagai cinderamata.
Produk lokal lain yang menurut Kmi bagus adalah kain besurek. Kain memiliki beberapa jenis bahan dengan harga antara 65 ribu hingga 650 ribu.Sayangnya kali ini kain basurek tidak begitu menarik minat pengunjung.Gemerlap lampu hias dari telong-telong terlihat menonjol di keriaan ini. Bentuknya mirip dengan lampion terbuat dari kertas.Tapi kali ini dibentuk lebih besar dari biasanya. Ada yang berbentuk rumah adat Bengkulu, bumi dan bunga rafllesia mekar. Untuk meramaikan suasana, setiap peserta melibatkan penari dan musik.Setiap telong-telong diikuti setidaknya 30 orang pendukung.
Benda setinggi enam meter ini disebut tabot yang berarti kotak atau keranda. Tabot yang sedang diarak ini disebut arak gedang.Ini termasuk satu dari beberapa prosesi yang harus dijalani dalam perayaan tabot. Tabot yang telah lengkap karena telah naek pangkek ini diarak ke Lapangan Merdeka untuk menjalani prosesi selanjutnya, tabot besanding.Tabot besanding adalah ketika semua tabot sakral yang berjumlah 17 buah sudah lengkap dibariskan di lapangan ini.
Pada malam ritual tabot besanding, Lapangan Merdeka menjadi lautan manusia. Selain menyedot perhatian masyarakat, acara ini juga dihadiri oleh sejumlah duta besar negara sahabat.Pada malam itu juga dicanangkan kawasan wisata bertaraf internasional di Bengkulu. Sirine dan luncuran kembang api dari Benteng Marlborough menandainya. Atraksi dol dan jari-jari karbala ditambah barisan tentara menabuh dol, menutup keriaan besar di Bengkulu malam itu.Usai festival tabot, Bengkulu kembali seperti semula. Seakan sepi ditinggal masyarakatnya yang bergulat dengan kesehariannya.
Mereka, masyarakat Bengkulu tengah menggapai impiannya menjadikan daerahnya sebagai tujuan wisatawan melancong.Seakan berangan, bisa saja nanti para pelancong sebelum meninggalkan Bengkulu menyempatkan diri mampir ke sentra oleh-oleh khas Bengkulu, seperti yang Kami lakukan.Di kawasan ini menjual makanan dan cinderamata, seperti emping melinjo, kopi Bengkulu dan tabot mini. Yang juga banyak diminati adalah kue tat, kue yang terbuat dari tepung terigu, gula dan nanas. Katanya mirip nastar. Sebuah angan-angan yang bisa terwujud tak lama lagi. (Suprie) Sumber: Indosiar.com

Harus Didukung oleh Semua Pihak

Keinginan mewujudkan Lebong, Provinsi Bengkulu, sebagai kabupaten konservasi adalah pekerjaan besar dan strategis yang harus didukung semua pihak. Agar dapat direalisasikan secara konkret, harus ada payung hukum agar saat pelaksanaannya tidak terjadi benturan di lapangan.
”Payung hukum yang kita harapkan itu harus dikeluarkan pemerintah pusat, tidak sekadar peraturan daerah. Kabupaten konservasi memiliki cakupan luas. Dalam pelaksanaan di lapangan, nantinya akan bersentuhan dengan berbagai kepentingan beberapa institusi dan lembaga di luar Pemerintah Kabupaten Lebong itu sendiri,” kata Bupati Lebong, Dalhadi Umar, menjawab pertanyaan Kompas di Muara Aman, ibu kota Lebong, pekan lalu.
Menurut Dalhadi, ide menjadikan Lebong sebagai kabupaten konservasi pada dasarnya terkait dengan kondisi geografis dan ketersediaan lahan budidaya di daerah ini.
Dari luas wilayah Lebong yang mencapai sekitar 192.924 hektar, sekitar 70% di antaranya terdiri atas hutan lindung, cagar alam, dan areal Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Khusus areal TNKS yang berada di wilayah Lebong luasnya mencapai sekitar 117.000 hektar.
”Jika melihat ketersediaan lahan yang layak untuk budidaya, Lebong hanya memiliki sekitar 30 persen saja. Sisanya merupakan kawasan hutan yang semestinya tidak boleh disentuh dan digarap. Menyadari akan terbatasnya lahan budidaya tersebut, maka kami usulkan Lebong ini menjadi kabupaten konservasi,” ujar Dalhadi Umar.
Dia mengemukakan, untuk mewujudkan kabupaten konservasi tersebut memang tidaklah mudah. Apalagi di tingkat daerah sendiri masih ada pro dan kontra. Di satu pihak ada yang mendukung, tetapi di lain pihak juga ada yang tidak setuju.
”Sebagai bupati saya tidak akan mundur dan merasa optimistis kabupaten konservasi bisa direalisasi. Meskipun dirasakan sebagai pilihan yang dilematik, kabupaten konservasi tetap menjadi alternatif paling tepat, guna menyelamatkan wilayah Lebong dari ancaman degradasi lingkungan yang parah di masa datang,” ujarnya.
Semua pihak
Menurut Dalhadi Umar, Lebong sebagai kabupaten konservasi tidak akan bisa diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong sendiri. Obsesi ini harus didukung semua pihak, terutama berbagai institusi yang menangani langsung kawasan hutan di daerah ini.
Dalhadi memberi contoh soal keberadaan beberapa kawasan hutan di daerah itu. Hutan lindung dan cagar alam yang ada di Lebong ditangani Departemen Kehutanan.
Adapun TNKS ditangani oleh Kepala Balai yang berkedudukan di Sungaipenuh, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Sementara di lapangan, ribuan hektar hutan lindung dan areal TNKS tersebut kini justru sudah berubah menjadi areal perladangan, yang digarap masyarakat secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.

Berbagai kepentingan
”Atas dasar itulah, kami minta agar pemerintah pusat segera membuat payung hukum yang jelas dan tegas. Ini penting agar berbagai kepentingan di lapangan tidak berbenturan. Di satu pihak, misalnya, Balai TNKS menganggap para peladang dan petani penggarap harus dikeluarkan dari hutan itu,” ujar Dalhadi.
Akan tetapi, di pihak lain, seperti Pemkab Lebong sendiri menganggap jika para peladang dikeluarkan begitu saja dari sana malah akan menimbulkan masalah sosial. (zul)

KEDURAI AGUNG

Budaya ‘Kedurei Agung’ Lebong akan Jadi Agenda Wisata
Budaya ‘Kedurei Agung’ yang menjadi tradisi masyarakat Kabupaten Lebong, mulai tahun ini akan dibakukan untuk menjadi agenda wisata tahunan, karena peringatannya sama meriahnya dengan peringatan Tabot di Kota Bengkulu, kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebong Drs Yustin Hendri.
Ketika ditanya di Bengkulu, Jumat (15/2), ia menjelaskan, ‘Kedurei Agung’ merupakan tradisi sakral dan peminatnya sudah cukup banyak, budaya itu biasanya digelar jika ada musibah sebagai tolak balak.
Namun ke depan kendati tak ada bencana, budaya itu tetap akan diperinggati secara rutin, hari dan waktunya masih dalam pembahasan Badan Musyawarah Adat setempat.
Dalam acara ‘Kedurei Agung’ itu biasanya digelar berbagai tarian adat (tari Kejei) dan lomba puisi bahasa Lebong, dengan hadiah menarik. Jika sudah dibakukan peringatan hari ‘Kedurei Agung’ itu akan lebih dibuat meriah.
Kalau selama ini peringatan hari budaya Lebong itu hanya dihadiri oleh para tokoh masyarakat, tahun depan akan mengundang para pejabat baik lokal maupun nasional sehingga lebih meriah.
Yustin mengatakan, untuk mendukung kegiatan budaya Kedurei Agung dan pembenahan beberapa obyek wisata di Kabupaten Lebong, sekarang tengah dilatih sekitar 14 klub sanggar seni yang melibatkan putri-putri cantik asli Lebong.
Para anak sanggar itu mulai tahun ini secara rutin berlatih di beberapa obyek wisata andalan antara lain di kawasan Danau Tes, air panas, dan air terjun di Sungai Putih serta pada kawasan Lobang Kacamata eks
pertambangan emas Belanda.
Budaya ‘Kedurei Agung’ merupakan acara sakral yang masih terpendam, namun cukup menarik, dan hanya diperingati satu kali dalam setahun.
‘Kedurai Agung’ selama ini dipercayai warga sebagai acara tolak balak jika terjadi musibah, seperti banjir, tanah longsor yang menelan korban jiwa, supaya ke depan tidak terulang, karena itu diperingati secara adat.
Menurut dia, pada tahun anggaran 2008 ini, Dinas Pariwisata Lebong juga mulai menawarkan beberapa lokasi wisata alam, tambang dan kawasan hutan belantara asli yang masih hijau, dengan target mendatangkan 100 ribu pengunjung wisatawan lokal dan nusantara. (Ant/OL-03)

Suku Rejang: Benarkah Hanya Satu

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar kepada bpk Hakim Benardie Sabrie yang telah menulis artikel ini. Iya ini.. adalah satu pertanyaan yang sulit dijawab terutama buat orang rejang sendiri. Dokumentasi tertulis, ahli sejarah, ilmu dan banyak hal keterbatasan lainnya yang membuat kita buta sejarah, dan terus terang saya sebagai orang rejang bingung untuk menjawabnya..
Ditulis Oleh Hakim Benardie Sabrie Penulis Buku dan Insan Pers, Jakarta Timur
“Benarkah, hanya ada satu suku Rejang?”. Memang suatu pertanyaan yang sangat menggelitik bagi setiap orang yang mendengarkannya, terutama mereka yang memang berasal dari Suku Rejang. Bagi penulis, “Suku Rejang itu hanya satu”. Mereka semua berasal dari satu rumpun, yang selanjutnya berkembang dan menyebar keseluruh pelosok di Provinsi Bengkulu ini.
Penulis sedikitpun tidak merasa ragu mengemukakan pendapat tersebut, meskipun kata Rejang, bukanlah monopoli suku Rejang (baca:Bengkulu), karena di Indonesia ini masih ada beberapa tempat yang menggunakan nama Rejang, sungai Rejang, dan juga tarian Rejang. Bahkan orangpun ada yang bernama Pak Rejang, ternyata bukan berasal dari Bengkulu, dia berasal dari Kalimantan.
Hampir-hampir saja penulis terkecoh, semula penulis taksak pastilah dia berasal dari Provinsi Bengkulu. Namun setelah berbincang-bincang Pak Rejang ini mengatakan, nama itu merupakan famnya (Suku atau asal nenek moyangnya). Kami tak lama berbincang-bincang, dan selanjutnya berpisah setelah pesat landing Bandara Sukarno-Hatta Jakarta, menuruskan perjalanan masing-masing.
Flash back (Kilas Balik) sejarah negeri Bengkulu memang menarik untuk dikaji kembali (kajiulang), karena kemajuan teknologi telah membuka peluang bagi kita untuk dapat berfikir, mengkaji, meneliti dan menelaah kebenaran dari suatu sejarah. Kita sudah tidak dapat lagi menyembunyikan kebohongan-kebohongan sejarah anak negeri. Jika dibawah tahun 1960 mungkin orang dapat saja mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah keturunan darah biru, dari raja Si Anu. Tetapi sekarang akan terungkap semua kebohongan itu, atau mungkin juga itu adalah merupakan suatu kebenaran.
Disinilah letaknya perbedaan, kalau kita berbicara secara ilmiah dengan kita berbicara secara politik atau politis. Berbicara secara ilmiah adalah untuk menemukan sutu kebenaran, sedangkan berbicara secara politik atau politis hanya ada satu jawaban, yaitu menang atau kalah. Tentunya untuk menemukan suatu kebenaran sejarah pada masa sekarang ini, hanya ada satu jalan yaitu “Ilmiah”, diperkuat dengan berbagai fakta dan argumentasi, dan dibahas secara analis dalam berbagai aspek. Dengan demikian objektivitas history akan dapat ditemukan secara konstruktif, bukan story yang berkembang dan menjadi polemik.
Berdasarkan berbagai teori sosiologi – antropologi - arkeologi telah mengajarkan kepada kita bahwa “Peradaban manusia itu selalu berawal dari kehidupan sekelompok manusia dipesisir pantai atau sungai, dan selanjutnya berkembangan menjadi komunitas masyarakat yang semula homogen dan selanjutnya berubah menjadi heterogen” dalam suatu masyarakat pergaulan yang lebih besar berbentuk bangsa (Nasional) dan selanjutnya berkembang menjadi antara bangsa-bangsa (Internasional).

Bo Kunei Homepage Tun Keme

Neak puweng bilai ade anok lenei jemua, tibo-tibo teko anok uso bejuget, coa sengajo si tepelat anok lenei peuk jemua, anok lenei yo kemudian matei, kemlian anok ne matei lenei yo kemudian madau magea pengadilan hakim ne kacea.
Sodo ngadau o, mulai ba kacea nyelidik ngen medeu anok uso moi pengadilan kacea,

Iintrogasi Muloi
Kacea; "anok uso, benea ko melat anok lenei sapei matei.?"
Anok Usu; "benea pak Hakim, tapi uku coa sengajo, ano uku peuk mena'ai, kareno ade beuk temabuak tipung, ijai uku temurut tipung na, cobo beuk coa temabuak tipung pasti uku coa naai, ngen melat anok lenei"
Kacea; "amen awei o' kenok beuk"
Coa an kemudian beukpun moi mengadep
Kacea; "Beuk, benea nano ko tipung, sehinggo anok uso juget kemudian si mlat anok lenei sapei matei, cubo jemlas jano alasanu temabuak tipung.?"
Samo tegok, ngen kemawut butut, beuk o' jemawab; "benea da pak Hakim, nano sengajo uku tipung pingia biyoa, kareno uku kaget kemliak kelsip medek milot ne pakei bajau besai, awei lok perang ne, mako ne uku temabuak tipung perang ano da".
Tepening ba kacea, samo pekei do saleak ne coa si anok uso tapi kelsip, sidang o' kemudian di skor sampai men na.......
Puweng men na sidang pun muloi, kacea kemtuk palau samo mengelik si kemliak Kelsip samo betanye, "kelsip uleak nu medek ilot makei bajau besai o' awei tun lok perang ne sehinggo beuk temabuak tipung dan anok uso juget teplat anok lenei trus anok lenei o' matei sikapnu o' bahayo sehinggo ko ba do betangung jawab neak masalah yo...!!!"
Ati sudo kacea temanye, langsung notong Kelsip, "benea da pak Hakim, uku makei bajau besai siap untuk perang kareno uku kemliak udang medek milot ne mbin pedang takater, keis telosong bao, kujua senlindang. Sakoku perang bejijai bedao, sehinggo uku makei bajau besai, coa ku sako beuk o' temabuak tipung na"
Sidang skor 30 menit, kacea tambek binggung tapi si tep lok temgok keadilan, menurutne untuk sementaro udang saleak, akibat udang medek milot, kelsip makei bajau besai, beuk ketipung anok uso bejuget dan temlat anok lenei. Keputusan sudo skor ade ba menok udang , "Knok Udang uyo, keluak si megadep magea uku uyo..!!!!!!!!"
Coa an kemudian megadep ba Udang, " Udang benea ko medek milot mbin pedang ngen kujua,.?" tanye kacea
Langsung jenawab Udang, "benea da Kacea kareno uku kemliak kan sepet mdek milot ne matei mileak bae awei lok mbuk tun na, sehinggo uku siap-siap jibeak sapei si semrang keme"
Tambea bae pusing kacea, "Knok gacang kan sepet o'
Kacea; "kan sepet jawab ngen jujur, lebeak ko matai milea, gentai.!!!!!!! Samo teminjau mija, matai tebelik bae kacea "konamen akibat ne matai nu mileak, udang mbin pendang dan kujua, kelsip makei bajau besai, beuk tipung, anok uso bejuget tempat anok lenei, mmaaatteeeiiiiii......!!!"
Kemliak kacea bi mengiak, langsung sepet jemawab, " benea da kacea, matai ku mileak kareno ulau biyoa kenotok indok lenei.."
Baru ngertai kacea bahwa do saleak ne indok lenei, si kemotok ulau biyoa, saat bmaco keputusan ne indok lenei menyesal si bi kmotok ulau biyoa, akibat ne beruntun anok ne matei............ sidangpun tenotup
cerito yo kundi sebeiku waktau uku klas 5 SD, Erwin Tuntopos)

Memadukan Wisata Alam, Budaya, dan Sejarah

TIDAK seperti lazimnya penggambaran pantai selama ini yang selalu dilukiskan banyak pohon kelapa, di tepi Pantai Panjang justru tumbuh berjajar pohon cemara. Penduduk setempat menyebutnya pohon ru. Tingginya bisa mencapai sekitar 30 meter, berjajar dengan rapi. Di beberapa tempat masih ada pohon baru yang sengaja ditanam untuk menambah pohon yang ada.
JAJARAN ratusan pohon cemara di tepi pantai itu menambah keindahan kawasan sepanjang sekitar tujuh kilometer di Kota Bengkulu ini. Di sepanjang pantai juga ada jalan beraspal sepanjang tujuh kilometer, dan berada di bawah kerimbunan pohon-pohon cemara tersebut.
Pantai di tepian Samudera Hindia ini jika sore hari dipadati oleh para pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati saat-saat Matahari terbenam. Pengunjung bisa sekadar duduk-duduk di pasir sambil menikmati pemandangan, atau berolahraga seperti joging, bermain bola, dan sekadar jalan-jalan.
Anak-anak bermain bola, pasangan muda-mudi berpacaran, orang tua yang sekadar duduk-duduk, dan beberapa orang memancing di sungai kecil yang mengalir ke pantai, adalah suasana yang biasa terlihat sore hari di Pantai Panjang.
"Saya sering mengajak keluarga untuk bermain dan menikmati sunset di pantai ini," kata Edi Marwan, warga Kota Bengkulu. Menurut Edi, setiap sore dan hari libur, pantai ini selalu dipenuhi warga yang ingin menikmati Matahari terbenam.
Di tengah laut, sejumlah kapal dan perahu terlihat sedang berlayar. Perahu-perahu itu milik para nelayan di Kota Bengkulu yang sedang mencari ikan di Samudera Hindia.
Ombak di pantai ini tidak terlalu besar, namun menurut sejumlah penduduk setempat, cukup berbahaya untuk dijadikan lokasi mandi. Sayangnya, tidak ditemukan adanya papan pengumuman kepada pengunjung tentang bahaya mandi di laut. "Seharusnya pemerintah memasang papan peringatan kepada pengunjung supaya keselamatan mereka terjamin," kata Edi.
Pesona sunset dan jajaran pohon cemara yang hijau di sepanjang tepiannya inilah yang coba ditawarkan untuk menarik wisatawan datang ke Bengkulu. Meski menjadi obyek wisata andalan, kawasan Pantai Panjang kurang terkelola dengan baik.
Pantai ini juga dilengkapi sarana publik seperti WC umum, restoran, dan kolam renang. Transportasi cukup mudah untuk mencapai pantai ini. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota.
Akan tetapi, beberapa fasilitas dibiarkan telantar tanpa perawatan, seperti tempat duduk dan beberapa bangunan lain yang tampak berantakan. "Bangunan rumah di pinggir pantai yang rusak itu karena gempa tahun 2000," kata Arman Rumli, Kepala Dinas Pariwisata Bengkulu.
Selain itu, jajaran puluhan gubuk tempat orang berjualan tampak mengganggu keindahan suasana pantai. Mereka tampak tidak diatur sehingga terkesan asal-asalan membangun warung-warung tersebut.
Pantai Panjang hanyalah salah satu dari sejumlah andalan untuk pembangunan pariwisata Bengkulu. Selain pantai ini, tempat lain yang menyajikan keindahan alam antara lain Pulau Tikus, Pantai Tapak Padri, Pantai Pasir Putih di dekat Pelabuhan Samudera Pulau Baai, dan Danau Dendam Tak Sudah.
Danau Dendam Tak Sudah merupakan tempat tumbuhnya anggrek langka, Vanda hookeriana. Sayangnya, akibat pembabatan hutan, danau ini terancam keberadaannya. Oleh Pemerintah Daerah Bengkulu, kawasan cagar alam ini dijadikan kawasan wisata.
"Akan tetapi, karena kawasan ini merupakan cagar alam, harus ada ploting area supaya kegiatan pariwisata tidak sampai merusak kawasan cagar alam," kata Arman.
BENGKULU tidak hanya mengandalkan wisata alam, tetapi juga wisata sejarah dan wisata budaya. Menurut Arman Rumli, Bengkulu kaya wisata sejarah dan budaya. Di antaranya adalah rumah Fatmawati, istri Presiden RI Soekarno, dan rumah kediaman Presiden Soekarno sewaktu diasingkan Belanda di Bengkulu antara tahun 1938 dan 1942.
Kekayaan sejarah lain di Bengkulu adalah Benteng Marlborough di tepi Pantai Tapak Padri, dan Monumen Parr. Benteng Marlborough merupakan bangunan kokoh peninggalan Inggris yang dibangun pada tahun 1713 hingga 1719 pada masa kepemimpinan Gubernur Joseph Collet.
Bangunan ini tidak mengalami kerusakan berarti ketika gempa besar berkekuatan 7,3 pada skala Richter tahun 2000 yang menghancurkan ribuan bangunan lain di Bengkulu.
Dari atas benteng bisa dilihat bentangan Pantai Tapak Padri hingga jauh ke tengah laut, dengan perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan atau merapat di pantai. Tak heran, benteng ini dijadikan sebuah tempat pertahanan karena tempatnya yang strategis untuk mengawasi tempat di sekelilingnya.
Tempat ini ramai dikunjungi pada sore hari. Pengunjung bisa menikmati sunset di horizon Pantai Tapak Padri dari atas benteng, sambil menikmati kenangan sejarah masa lampau.
Sayangnya, kondisi bangunan tua ini terkesan kurang terawat. "Padahal, kalau dirawat dengan baik, pasti akan bagus," kata Jon, seorang pengunjung benteng. Bahkan benteng bersejarah ini tidak luput dari aksi vandalisme, dengan banyaknya coretan di dinding benteng dan di beberapa meriam peninggalan Inggris. "Coretan-coretan itu hasil kejahilan para pengunjung," kata Erman, seorang fotografer di Benteng Marlborough.
Wisata lain yang menjadi andalan Bengkulu adalah wisata budaya. Paling dikenal adalah wisata budaya upacara Tabot. Perayaan Tabot di Bengkulu dilaksanakan selama 10 hari berturut-turut.
Tabot dirayakan setiap tanggal 1 hingga 10 Muharam setiap tahun, yang berakar pada sejarah Islam di Bengkulu. "Sekarang ini banyak Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) dan menyebar ke beberapa desa di Bengkulu," kata Arman.
Selain Tabot, wisata budaya lainnya adalah kerajinan kain besurek. Tetapi, akibat mulai jarangnya perajin, cukup sulit untuk melihat perajin yang sedang membatik kain besurek.
Di kawasan Penurunan dan Anggut banyak kios yang memajang cenderamata khas Bengkulu seperti kain besurek. Hanya saja, yang banyak dipajang saat ini adalah kain batik printing motif besurek. Kain batik jenis inilah yang mengancam keberadaan para perajin kain besurek Bengkulu. (B04)
DAFTAR NAMA GUBERNUR BENGKULU

Head of Communications:press wikimedia.org. Phone : +1 415-839-6885
If leaving a message, please ensure you provide all necessary calling details to ensure a reply to your call.
We also have local contacts throughout the world. Find a Wikimedian.
(We get a large number of calls; email is always a better first option. Please note: We do not wish to receive any press release or newsletter, nor any documentation about your organization. For specific questions regarding the content of one of our projects, please email info-en wikimedia.org, or visit Wikipedia:Contact us.)

Daftar gubernur Bengkulu
No.Nama Periode
01. Ali Amin 1968-1974
02. Abdul Chalik 1974-1979
03. Suprapto 1979-1989
04. HA Razie Yahya 1989-1994
05. Adjis Ahmad 1994-1999
06. Hasan Zein 1999-29 November 2005
07. Agusrin MN 29/11/2005-sekarang

ADAT/ISTIADAT PERKAWINAN

Tata cara mengantar uang Jujuran
(Sambutan dari pihak keluarga perempuan/penerima tamu) :
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, Saudara-saudara para hadirin yang terhormat, i-ö kulo da ade neak ruangan danea, i-ö kulo da ade neak ruangan dasei beserta kaum Ibu-ibu ne.
Pertamo-tamo, maro-ba ite samo-samo memanjatkan puji syukur kehaderat Allah SWT, da-dipe ite saat-yo dapet hadir ber samo-samo lem keadaan sehat wal-afiat.
Mudah-mudahan bae pelaksanaan pado acara te pado…………..yo, samo-samo-ba ite bekinoi magea Tuhan, semoga acara demi acara te-yo-be, dapet belangsung ngen baik, sejok kundei awal mulo-ne mbeak ba ade suatu halangan kelok-ne.
Bapak-bapak, Saudara-saudara para hadirin yang terhormat.
Berbicaro-ne uku pado saat-yo, ade-ba peluak penyayo kundei saudara keme ……………. Untuk semapei salam dan ucapan terimo kasiak atas kehadiran kumu sekalian, mungkin neak antaro kumu dau-yo ade temingea kerjo da peting-ne sengajo teko untuk memenuhi undangan-yo, mako atas jasa baik kumu dau-yo, awei saudara ………………. Coa lupo demu-o magea Tuhan, semoga Tuhan-ba untuk melei balasan magea kumu sebagai imbalan atas jasa baik kumu dau-yo.
Bapak-bapak, Saudara-saudara para hadirin yang terhormat.
Adepun maksud ngen tujuan kundei kenok kedeu-yo, ade ba awei saudara keme ………….. yo ade kedatangan tamu, tamu dadipe-ne, amen ite kemeliak kedatangan ne-yo ngen rombongan besar, sudo jelas peneko ne-yo ade maksud ngen ade kelok. Jijai sebelum ite munyuak iben untuk tema-ok ngen temenai, mako neak adep-te para jenang, keme bimidang biyoa, ade baik-ne ite menem kileak, sesudo-o be ite moi temenai-ne. Jijai magea jenang, kaket tangen mempersilahkan untuk menem ngen membaco Bismillahirahmanirrahim. (Acara minum).
Setelah selesai acara minum
Bapak-bapak, Saudara-saudara para hadirin yang terhormat.
Uyo acara menem bi-sudo selesei ngen baik, uyo uku lok munyuak iben ngen tetamu-te ngen magea sidang majelis, uku lok minoi maaf. (Langsung menghadap ke wakil tamu).
Sirih terletak pinang jatuh saudara …………… yang terhormat.
Neak adep-nu-o, ade keme munyuak iben, iben-yo ade-ba iben kundei pako umeak, aëp-ko temimo kileak, sudo-o-be ade kecek-ne bakea uku semapei.
(Wakil tamu/pihak pria)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Bapak-bapak, Saudara-saudara para hadirin yang terhormat.
Awei tegoa-yo, awei kumu dau-yo bisudo temi-uk dan menyaksikan kute maksud dan tujuan peneko keme ngen rombongan-yo, kemudian magea telau unsur pemeriteak neak-yo, keme bidapet pulo restu untuk kemecek-ne, mako neak lem hal-yo, baik-ba uku cubo kemecek-ne dan lok minoi maaf kiro-ne neak lem uraian-ku yo be dau coa-si keno titik koma-ne, da-dute uku madeak kedong dan kedong uku madeak dute.
Pado beberapo bulen da bisudo, ade nien asen diasen antaro anok ……………….. ngen anok……………… neak-yo.
Ngen adene asen diasen o-ba, tun tuai keduo belah pihak-yo made perundingan. Jijai nak-lem perundingan-o, rupo-ne dapet se-dalen, ibarat umai-ne dapet sawang. Da dipe sawang-ne asen ne-o. Adepun saudara …………. (pihak perempuan) made do usulan, serto madeak kelok, lok minoi caci ………………. Wang Rajo……………….. duduk letok………………….. nikeak………………….. mako ibarat ban-ne, pihak ……………… yo sanggup melei da barat nadeak saudara ……………….. o-nano, dio-ba pemanew atau kelok keme teko mindoi, mbin pesen serto mbin pitek kinoi kundei saudara…………….. neak lem janjai-ne-o. Uyo tingea igai ketiko keme semereak-ne, tengen padeak kumu-ne igai.
Diposting oleh Dodi Oktaviano

Pemberantasan Korupsi Harus Ditingkatkan

Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2008 adalah 2,6. IPK tersebut naik 0,3 dibandingkan IPK tahun 2007 yang hanya 2,3. Membaiknya IPK tahun 2008 tidak terlepas dari kinerja pemberantasan korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama setahun ini.
Ketua Badan Pengurus Transparency International Indonesia (TII) Todung Mulya Lubis saat peluncuran IPK Indonesia 2008 di Jakarta, Selasa (23/9), mengatakan, kinerja KPK dalam memberantas korupsi perlu ditingkatkan.
Turut hadir sebagai pembicara dalam acara itu adalah Sekjen TII Rizal Malik, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Ketua KPK Antasari Azhar, dan Staf Khusus Presiden Denny Indrayana.
Selain gebrakan KPK, kata Todung, kenaikan IPK juga didukung upaya pemerintah dalam membenahi pelayanan publik. Di sejumlah kota/kabupaten bahkan, ada inovasi lokal untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dalam pelayanan satu atap seperti di Kota Surabaya dan Kabupaten Sragen, maupun perbaikan pelayanan publik seperti di Kabupaten Jembrana (Bali) dan Kabupaten Musi Banyuasin (Sumatera Selatan).
Denny mengatakan, dalam konteks negara Indonesia yang tingkat korupsinya parah, maka upaya penindakan dalam pemberantasan korupsi harus diutamakan dibandingkan upaya pencegahan.
Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, untuk mencegah korupsi harus ada teladan dan moralitas yang baik dari para pemimpin, mulai dari presiden, para menteri, gubernur, bupati, dan wali kota. Para pimpinan tersebut juga jangan ikut mengurusi proyek pembangunan. "Kalau pemimpinnya tidak mengurusi proyek dan tidak meminta jatah, maka pihak-pihak yang menangani proyek itu takut korupsi," katanya.
Apresiasi
Todung menambahkan, IPK Indonesia yang meningkat tersebut membuat banyak pengusaha asing memberi apreasi terhadap Indonesia. "Selama ini memang mereka apresiasi dengan kinerja KPK, walaupun ada di antara mereka belum puas karena KPK masih terkesan tebang pilih dalam memberantas korupsi," kata Todung.
Tahun 2008 Indonesia berada di urutan ke-126 dari 180 negara yang diteliti, dengan skor 2,6 atau naik 0,3 dibandingkan IPK 2007 yang hanya 2,3. Sebelumnya, IPK Indonesia adalah 2,4 di tahun 2006.
Di balik kisah sukses KPK tersebut, tuturnya, TII juga mencatat banyak upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan selama setahun ini belum maksimal. Pemberantasan korupsi oleh KPK gagal menyentuh pejabat negara yang berkuasa, khususnya di tingkat pusat. Hal ini bisa dilihat dalam aliran dana BI yang diduga diterima dua menteri yaitu MS Kaban dan Paskah Suzeta. [E-8]

Korupsi di Depdiknas kian Menjalar

Dugaan adanya praktik korupsi di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) kian menjalar pascapenahanan mantan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah atau PLS (kini Pendidikan Non Formal dan Informal/PNFI) oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.
Hal itu terungkap, saat anggota tim investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Febry Hendri dan Agus Sunaryanto menyerahkan hasil temuan ICW terhadap dugaan praktik korupsi di Ditjen PNFI Depdiknas ke Kejati DKI Jakarta, Selasa (23/9).
"Kasus ini bukan akhir dari indikasi praktik korupsi di Depdiknas. Berdasarkan investigasi ICW, masih ada indikasi korupsi dalam pengadaan barang dan jasa di Ditjen PLS/PNFI selama 2006 dan 2007, namun belum diusut secara hukum," kata Febry seusai menyerahkan hasil temuan ICW kepada Asisten Pidana Khusus Kejati DKI Jakarta Muhammad Yusuf.
Febry memaparkan, beberapa kegiatan pengadaan barang di Ditjen PLS/PNFI Depdiknas tersebut di antaranya adalah pengadaan buku-buku dan modul belajar, pengadaan blanko ijazah, serta pengadaan SIM (Sistem Informasi Manajemen).
Tiga kegiatan pengadaan dengan nilai total kontrak sebesar Rp 20,173 miliar. Nilai sebesar itu diduga telah direkayasa dengan modus penggelembungan nilai kontrak sehingga negara berpotensi dirugikan Rp. 6,856 miliar. "Diduga di mark up sekitar 34 persen dari harga sebenarnya," katanya.
ICW, katanya, juga mengantongi 22 nama pejabat teras, pegawai di lingkungan Ditjen PNFI, dan rekanan Depdiknas yang terlibat dalam tiga kasus pengadaan ini. Berdasarkan penelusuran ICW, ada indikasi upaya penyelesaian hukum terhadap para pelaku yang terlibat hanya diarahkan pada pemberian sanksi administratif sesuai PP 30/1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri.
"Para pelaku yang terlibat diarahkan untuk mengembalikan kerugian negara saja, kemudian diberikan sanksi sebatas teguran lisan hingga pemberhentian secara tidak terhormat. Artinya, sanksi pidana akan dikesampingkan," ujarnya.
Agus menambahkan, dugaan korupsi di Ditjen PLS/PNFI ini merupakan indikator bahwa pengelolaan anggaran Depdiknas sangat rawan dari praktik korupsi. Titik kerawanan ini berpeluang semakin meningkat seiring dengan kenaikan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN atau senilai Rp 224 triliun. Oleh karena itu, katanya, masyarakat harus terus melakukan pengawasan terhadap Depdiknas.
Sementara itu M Yusuf menyambut baik laporan investigasi ICW tersebut. Dia juga mengungkapkan, Kejati menengarai adanya penggelembungan dana dalam program pengadaan komputer oleh Dirjen PLS. Atas pengembangan kasus ini, setidaknya tiga orang pejabat akan segera ditetapkan menjadi tersangka.
Informasi yang diperoleh, mantan Dirjen PLS Depdiknas Ace Suryadi kini ditahan di Rutan Salemba. [W-12]

Kegagalan Program Kemiskinan

Ekonomi Global Disalahkan
Kondisi ekonomi global yang tak menentu akhir-akhir ini dan target pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak mencapai 7 persen per tahun berpengaruh terhadap upaya pemerintah mengurangi jumlah orang miskin. Dengan kondisi itu, pemerintah membantah telah gagal mengurangi angka kemiskinan.
Pernyataan itu dikemukakan Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, Sujana Royat kepada SP, Selasa (23/9).
Menurutnya, pada tahun ini angka kemiskinan telah menurun menjadi 35,27 juta jiwa dari sebelumnya 37,17 juta. Salah satu program yang memberi kontribusi signifikan dalam pengurangan kemiskinan adalah program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM). "Saya heran jika ada yang mengeluh bahwa program pengurangan angka kemiskinan tidak sukses. Sebanyak 20 juta orang keluar dari kemiskinan, bukanlah angka yang kecil. Saya kira ini (PNPM, Red) adalah program paling efektif untuk mengurangi angka kemiskinan masyarakat melalui pemberdayaan terhadap mereka," katanya.
PNPM, lanjutnya, bukan program baru, karena sudah dilaksanakan sejak 1998. Sampai saat ini, tercatat 24 juta jiwa telah penerima PNPM. Hasil audit Colin and Roboff menunjukkan tingkat kegagalan PNPM hanya 0,8 persen.
Lebih jauh dikatakan, pengentasan orang miskin dipengaruhi banyak faktor, bukan semata-mata kurang optimalnya PNPM. Berbagai faktor itu menyebabkan tren kemiskinan selalu naik-turun atau tidak stabil. Pada masa Orde Baru, angka kemiskinan dapat ditekan hingga 14 persen, namun saat krisis moneter, melonjak menjadi 60 persen, lalu turun lagi menjadi 40 persen.
Untuk lebih mengefektifkan PNPM, kata Sujana, harus dilakukan beberapa perbaikan. "Jangan ada inflasi berlebihan, jaga pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, dan harus ada dukungan optimal dari pemerintah daerah," katanya.
Inkonsistensi
Senada dengannya, Ketua Komisi VIII DPR, Hasrul Azwar mengatakan masyarakat jangan terlalu cepat memberikan penilaian bahwa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah gagal mengurangi angka kemiskinan. Presiden telah mencoba dan berusaha mengurangi angka kemiskinan dengan berbagai program, di antaranya bantuan langsung tunai (BLT), kredit usaha rakyat (KUR), dan PNPM.
Jika saat ini masih banyak masyarakat yang miskin, menurut Hasrul, hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia yang sedang karut-marut. "Terlalu terburu-buru kita mengatakan SBY telah gagal. APBN 2009 belum selesai kan. Tidak hanya angka kemiskinan Indonesia melonjak, tetapi juga dunia. Amerika yang kuat saja hancur," ujar anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan itu.
Sedangkan, anggota Komisi VIII Zulkarnaen Djabar mengatakan salah satu penyebab angka kemiskinan tetap tinggi adalah penyelewengan dan inkonsistensi program penanggulangan kemiskinan. Selain itu, persoalan kemiskinan tidak terlepas dari pengaruh global. "Indonesia tidak bisa terlepas dari pengaruh kondisi ekonomi dunia saat ini," ujarnya politisi Partai Golkar itu. [DMF/A-16]

TABOT

TABOT
Sepengal adegan ini terjadi awal bulan Muharam tahun 61 Hijriah di Padang Karbala. Pasukan Husien Bin Ali bin Abi Thalib salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW bertempur melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Perkelahian tidak seimbang menyebabkan Husien akhirnya dipancung lalu tubuhnya dicincang.
Potongan tubuh Husien ditemukan lalu diarak keliling kota. Kematian Husien ini kemudian diperingati oleh kaum Syiah. Tradisi kemudian membudaya dan menjadi bagian masyarakat Bengkulu yang dinamakan Tabot.
Bengkulu merupakan ibukota Provinsi di Pulau Sumatera. Disinilah sebagian warga keturunan Bengala, India merayakan upacara Tabot yang berlangsung selama 10 hari. Dari tanggal 1 hingga 10 Muharam 1427 Hijriah.
Sebelum melakukan ritual, mereka memanjatkan doa di rumah salah satu tokoh Tabot, agar upacara ini berjalan lancar. Tradisi Tabot dibawa oleh para pekerja asal Bengalih, India.
Salah satu tokohnya Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo adalah orang yang pertama kali memperkenalkan dan mewariskannya ke anak cucu.
Sehingga tradisi ini kini menjadi budaya dan masyarakat Bengkulu.Dua kelompok Tabot akan melakukan ritual ini yakni Tabot Bangsal dan Tabot Imam yang prosesinya saat ini Kami ikuti.
Ribual diawali dengan mengambik atau mengambil tanah yang dilakukan di Pantai Nala. Untuk mengetahui prosesi ini lebih dekat, Kami langsung menuju ke Pantai Nala sebelum ritual dilakukan pada malam nanti.
Di bangunan dengan atap berlambang Gerga ini, ritual mengambik atau mengambil tanah dilakukan. Bangunan ini hanya dibuka saat ritual Tabot berlangsung. Dan setelah itu dikunci agar masyarakat setempat tidak mengkramatkannya.
Disini Kami menjumpai Mahyudin, keturunan ke 6 Syekh Burhanuddin yang sehari-harinya menjaga lokasi ini. Dan kini ia sibuk mempersiapkan upacara Tabot.
Sebelum tanah diambik ada beberapa ritual yang harus dikerjakan para Imam Tabot. Pukul 10 malam, ritual mengambik tanah dilakukan. Baik keluarga Tabot Imam dan warga berjalan kaki menuju Pantai Nala.
Mereka menggelar sesajian berupa bubur merah putih, gula merah, sirih tujuh subang, rokok 7 batang, air kopi pahit, air srobat, air susu sapi murni dan air cendana. Tanah diambil sebanyak dua kepal, lalu dibungkus dengan kain putih.
Prosesi ini merupakan simbol untuk mengingatkan kembali proses penciptaan manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Di akhir ritual, mereka meninggalkan sebagian dari sesaji. Ini kebiasaan yang dilakukan sejak awal upacara ini dan terkadang sesaji yang diberikaan tergantung keinginan sang roh halus.
Tanah Disemayamkan
Inilah Gerga, bangunan yang menjadi simbol dari benteng pertahanan Husein Bin Ali Abi Thalib saat berperang melawan Yazid. Bangunan ini lebih mirip miniatur masjid dan dipercaya sebagai tempat sakral keluarga Tabot.
Hanya ada satu Gerga yang dibuat permanen. Gerga lain yang Kami temui hanya dibuat dari kayu beratapkan seng dan dibangun sementara. Selama upacara, tanah yang diambil dalam prosesi semalam ditaruh disini hingga akhir perayaan.
Sejak pagi keluarga Tabot mempersiapkan sesaji berupa nasi emping dengan empat macam air. Air jahe, srobat, susu dan kopi. Hanya orang tertentu yang boleh menyiapkan sesaji ini . Sesaji ini nantinya akan diperebutkan keluarga Tabot dan warga.
Tanggal 4 Muharam, kelompok Tabot Imam melakukan ritual duduk penja. Yakni tahapan kedua dari 9 tahapan upacara Tabot. Duduk penja adalah upacara mencuci benda keramat berupa telapak tangan manusia atau penja. Yang diibaratkan potongan tangan Husein Bin Ali bin Abi Thalib. Berbagai peralatan pencucian disiapkan. Yakni 4 macam air jeruk, nipis serta gula merah. Ritual pun dimulai dan penja dicuci tiga kali.
Namun ritual ini terkesan sedang mempersiapkan perang. Setelah itu sesaji berupa nasi emping dikeluarkan. Warga seolah tidak sabar menanti akhir dari ritual.
Nasi emping ini dipercaya dapat mengabulkan keinginan mereka yang dapat memakannya. Sayangnya, Kami yang sudah menunggu sejak tadi tidak kebagian sedikitpun.
Keranda yang berisi penja kemudian dimasukkan kedalam Gerga. Pertanda ritual ini berakhir. Bendera panji, lambang pohon tebu hitam dan pisang emas ditegakkan di 4 penjuru Gerga, sebagai perlambang dalam suasana perang tetap harus dilakukan dengan kepala dingin dan tidak ceroboh.
Keesokan harinya, giliran 15 Tabot Bangsal menggelar ritual serupa. Sore menjelang malam, Tabot Bangsal siap menyerang Tabot Imam. Obor disiapkan. Begitu pula dol atau gendang yang mereka bersihkan dengan air bekas cucian penja.
Perang Dimulai
Suara gendang atau dol dan tasa menyemarakan ritual malam menjara. Kelompok Tabot Bangsal siap menyerang ke kelompok Tabot Imam. Panji kebesaran dan jari-jari diarak.
Ritual menjara diibaratkan perjalanan menuju kancah peperangan. Untuk mengetahui lebih dalam ritual ini Kami mengikuti perjalanan rombongan Tabot Bangsal yang terdiri dari 8 kampung.
Rombongan Tabot ini mendatangi setiap kampung untuk menggalang massa. Sehingga jumlah rombongan terus bertambah.
Kami melihatnya dari jari-jari yang mereka usung. Karena setiap jari-jari mewakili satu kampung. Suasana terkadang menjadi panas dan tegang ketika rombongan yang satu bertemu dengan kampung lainnya.
Dol atau gendang dipanasi sebelum diadu dengan dol lawan. Tradisi ini masih bertahan. Konon dahulu, dol ini diadu hingga pecah. Kedua kelompok akhirnya bertemu. Kedua pasukan langsung beradu dol dan menabuh sekuat-kuatnya.
Dua menit adu dol berlangsung. Pasukan Bangsal kemudian beranjak lalu mengunjungi Gerga tua. Disini seluruh jari-jari Tabot Bangsal melakukan soja atau bersambut dengan jari-jari Tabot Imam. Dan ritual menjara untuk malam ini berakhir.
Esok malamnya, ritual menjara kembali dilakukan. Kali ini kelompok Tabot Imam balas mengunjungi ke Tabot Bangsal.
Kali ini peralatan lebih lengkap. Rombongan berjalan kaki ke Gerga tua untuk mengambil jari-jari dan menjemput rombongan di 9 kampung.
Api unggun dinyalakan saat rombongan beristirahat sejenak. Biasanya, hal ini dilakukan beberapa kali selama perjalanan. Suasana lebih meriah dibanding malam sebelumnya.
Kerasnya bunyi dol terkadang memicu emosi massa, sehingga nyaris bentrok dengan sesama rombongan.
Perjalanan ke Lapangan Merdeka masih panjang. Untuk menyemangati pasukan yang sudah mulai lelah, dol terus ditabuh.
Kendati dengan irama yang sudah tidak sesuai. Rombongan tiba di Lapangan Merdeka. Namun pasukan bubar, karena alam yang tidak bersahabat.
Sebaliknya di Kampung Bali, Tabot Bangsal sudah menunggu di Gerga mereka. Tidak beberapa lama kemudian, pasukan Tabot Imam tiba lengkap dengan 9 jari-jari yang mewakili 9 kampung.
Kedua pasukan kemudian berperang mengadu gendrang, bukan senjata sebagaimana yang Kami tunggu.
Prosesi panjang menjara berakhir sudah. Ritual ini mengenang kembali kecintaan mereka terhadap Husien Bin Ali Abi Thalib serta menanamkan rasa kebencian terhadap Yazid bin Muawiyah. (Sup) Reporter: Eliza Amanda. Juru Kamera: Mugi Wiyono

Daftar Dialek Melayu Lokal di Indonesia

Daftar Dialek Melayu Lokal di Indonesia
at Thursday, July 24, 2008
Bila melihat daftar listing ini, bahasa rejang tidak masuk sama sekali ke dialek melayu, jadi merupakan bahasa daerah tersendiri di Indonesia.
Dialek Melayu Lokal di Indonesia merupakan dialek lokal terbanyak. Jumlahnya mencapai 46 dialek termasuk bahasa Indonesia sendiri yang diakui sebagai bahasa resmi di negara itu. Berikut daftar nama-nama dialek tersebut:
(SR/bhs/25/07-07)
Bahasa Indonesia.
Banjar.
Bengkulu.
Enim.
Kaur.
Kerinci.
Kubu.
Lematang.
Lembak.
Lintang.
Loncong.
Lubu.
Melayu Bacan.
Melayu Berau.
Melayu Bukit.
Melayu Jambi.
Melayu Kota Bangun Kutai.
Melayu Loloan/Bali.
Melayu Makasar.
Melayu Maluku Utara.
Melayu Satun.
Melayu Tenggarong Kutai.
Musi.
Ogan.
Palembang.
Pasemah.
Penesak.
Rawas.
Ranau.
Semendo.
Serawai.
Sindang Kelingi.
Suku Batin.
Dialek Anak Dalam.
Dialek Asahan.
Dialek Bangka-Belitung.
Dialek Bengkulu.
Dialek Deli.
Dialek Ketapang.
Dialek Landak.
Dialek Langkat.
Dialek Pontianak.
Dialek Riau Daratan. (1)
Dialek Riau. (1)
Dialek Sambas.
Dialek Tamiang.

http://melayuonline.com